Minggu, 11 Oktober 2020

Hadits kelas 6

Hadits kelas 6

۱. خَيْرُ بَيْتٍ فِى الْمُسْلِمِيْنَ بَيْتٌ فِيْهِ يَتِيْمٌ يُحْسَنُ اِلَيْهِ 
Sebaik-baik rumah orang islam adalah rumah yang didalamnya ada anak yatim yang dirawat dengan baik 

٢. الزِّنَا يُوْرِثُ الْفَقْرَ 
Zina menyebabkan fakir 

٣. ذُوْالْوَجْهَيْنِ فِي الدُّنْيَا يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَهُ وَجْهَانِ مِنْ نَارٍ 
Orang yang mempunyai dua wajah didunia maka dihari qiamat nanti mempunyai dua wajah dari api 

٤. طُوْبٰى لِمَنْ عَمِلَ بِعِلْمِهِ،  وَاَنْفَقَ الْفَضْلَ مِنْ مَالِهِ،  وَاَمْسَكَ الْفَضْلَ مِنْ قَوْلِهِ 
Beruntung bagi orang yang beramal dengan ilmunya,  bersedekah dengan hartanya yang berlebih,  dan menjaga ucapan dari berbicara berlebihan. 

٥. هَلَكَتْ الرِّجَالُ حِيْنَ اَطَاعَتْ النِّسَاءَ 
Rusaknya laki-laki (suami) adalah ketika mengikuti istrinya. 

٦. اِذَا وَعَدَ اَحَدُكُمْ فَلَا يُخْلِفْ 
Ketika berjanji maka janganlah mengingkari 

٧. اَصْلِحُوْا دُنْيَاكُمْ وَاعْمَلُوْا لِاٰخِرَتِكُمْ كَأَنَّكُمْ تَمُوْتُوْنَ غَدًا 
Perbaikilah duniamu dan beramal untuk akhiratmu seolah olah engkau meninggal dunia esok hari. 

٨. اَفْضَلُ الْاَعْمَالِ بَعْدَ الْإِيْمَانِ بِاللّٰهِ: التَّوَدُّدِ اِلَى النَّاسِ 
Amal yang paling utama setelah iman kepada Allah SWT ialah berkasih sayang terhadap sesama manusia 

٩. خَصْلَتَانِ لَا يَجْتَمِعَانِ فِي مُؤْمِنٍ: الْبُخْلُ وَسُوءُ الْخُلُقِ 
Dua perkara yang tidak bisa berkumpul bersama kepada orang mukmin yaitu bakhil dan budi pekerti yang buruk 

۱٠. اٰيَةُ المُنَافِقِيْنَ ثَلَاثٌ: اِذَا حَدَّثَ كَذَبَ،  وَاِذَا وَعَدَ اَخْلَفَ،  وَاِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ 
Tanda orang munafik ada 3,  ketika berbicara dia berbohong,  ketika berjanji tidak ditepati dan ketika dipercaya dia berkhianat. 

Hadits Kelas 5

Hadits kelas 5 

۱. عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَاِنَّهُ بَابٌ مِنْ اَبْوَابِ الْجَنَّةِ 
Hendaknya senantiasa jujur karena jujur adalah pintu dari pintu surga 

٢. عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَاِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِى اِلَى الْبِرِّ 
Hendaknya senantiasa jujur karena jujur menunjukkan pada kebaikan 

٣. لِكُلِّ شَيْئٍ زَكَاةٌ،  وَزَكَاةُ الدَّارِ بَيْتُ الضِّيَافَةِ 
Segala sesuatu ada zakatnya , zakat rumah adalah memberi hidangan pada tamu 

٤. كُلُّ مَعْرُوْفٍ صَدَقَةٌ 
Setiap kebaikan adalah sedekah 

٥. كُلُّ مُسْكِرٍ خَمْرٌ وَكُلُّ مُسْكِرٍ حَرَامٌ 
Setiap yang memabukkan adalah khomr dan setiap yang memabukkan adalah haram 

٦. مَنْ دَلَّ عَلٰى خَيْرٍ،  فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ 
Barang siapa menunjukkan pada kebaikan maka baginya pahala seseorang yang melakukan kebaikan tersebut. 

٧. مَنْ قَادَ اَعْمٰى اَرْبَعِيْنَ خَطْوَةً،  وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ 
Barangsiapa menuntun berjalan pada orang buta sampai 40 langkah maka wajib masuk surga 

٨. مَنْ اَطْعَمَ مُسْلِمًا جَائِعًا،  اَطْعَمَهُ اللّٰهُ مِنْ ثِمَارِ الْجَنَّةِ 
Barangsiapa memberi makan pada orang yang lapar maka Allah akan memberikan buah-buahan disurga 

٩. لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِالَّذِي يَشْبَعُ،  وَجَارُهُ جَائِعٌ اِلَى جَنْبِهِ 
Bukanlah disebut orang mukmin ketika dia kenyang sedangkan tetangganya dalam keadaan kelaparan. 

۱٠. الْخَيْرُ كَثِيْرٌ،  وَقَلِيْلٌ فَاعِلُهُ 
Kebaikan itu banyak akan tetapi sedikit yang melakukan/mengamalkannya 

Hadits kelas 4

Hadits kelas 4

 ۱. اَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ: الْاِشْرَاكُ بِاللّٰهِ 
Apakah aku tidak menceritakan kepadamu dosa besar,  yaitu menyekutukan Allah Swt.

٢. اِنَّ الْجَنَّةَ لَاتَحِلُّ اِلَّا لِمُؤْمِنٍ 
Sesungguhnya surga tidak halal kecuali bagi orang mukmin. 

٣. مَنْ بَدَّلَ دِيْنَهُ فَاقْتُلُوْهُ 
Barangsiapa mengganti (pindah)agamanya maka bunuhlah 

٤. لَا تَغْضَبْ وَلَكَ الْجَنَّةُ 
Jangan marah maka engkau mendapatkan surga 

٥. مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ فَلْيُحْسِنْ اِلٰى جَارِهِ 
Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka berbuat baiklah terhadap tetangganya. 

٦. لَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ اَنْ يَهْجُرَ اَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثَةِ اَيَّامٍ 
Tidak halal bagi seorang muslim tidak menyapa(apatis) ketika ada masalah terhadap saudaranya sampai diatas tiga hari 

٧. مَنْ كَانَ لَهُ وَجْهَانِ في الدُّنْيَا،  كَانَ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لِسَانَانِ فِي النّارِ 
Barangsiapa mempunyai dua wajah didunia maka dihari qiamat akan mempunyai dua lidah dineraka 

٨. لَااِيْمَانَ لِمَنْ لَا اَمَانَةَ لَهُ 
Tiada sempurna iman seseorang bila dia tidak amanah (dapat dipercaya) 

٩. مَنْ بَرَّ وَالِدَيْهِ طُوْبٰى لَهُ، زَادَ اللّٰهُ فِي عُمْرِهِ 
Barangsiapa berbuat baik kepada kedua orang tuanya maka dia sangat beruntung,  Allah akan menambah umurnya. 

۱٠. عَلَيْكَ بِتَقْوَى اللّٰهِ فَاِنَّهَا جِمَاعُ كُلِّ خَيْرٍ 
Senantiasa bertakwalah kepada Allah, karena taqwa adalah Muara (berkumpulnya) tiap kebaikan. 


Hadits kelas 3

Hadis kelas 3

۱. الْجَمَاعَةُ رَحْمَةٌ وَالْفُرْقَةُ عَذَابٌ 
Berkumpul adalah rahmat dan pecah belah adalah siksa 

٢. وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ 
Berakhlaklah terhadap manusia dengan akhlaq yang baik 

٣. أَحِبَّ النَّاسَ مَا تُحِبُّ لِنَفْسِكَ 
Cintailah manusia seperti engkau mencintai dirimu sendiri. 

٤. إِذَا اَرَدْتَ اَنْ تَذْكُرَ عُيُوْبَ غَيْرِكَ فَاذْكّر عُيُوْبَ نَفْسِكَ 
Jika engkau hendak menceritakan aib orang lain maka ingatlah aib (cela) dirimu sendiri terlebih dahulu. 

٥. الْحَيَاءُ خَيْرٌ كُلُّهُ 
Malu adalah kebaikan semuanya 

٦. خَيْرُ النَّاسِ اَحْسَنُهُمْ خُلُقََا 
Sebaik-baik manusia adalah yang lebih akhlaknya 

٧. سُوْءُ الْخُلُقِ يُفْسِدُ الْعَمَلَ كَمَا يُفْسِدُ الصَّبِرَ الْعَسَلَ 
Akhlaq yang buruk bisa merusak amal baik seperti cuka merusak madu. 

٨. الْغَضَبُ يُفْسِدُ الْاِيْمَانَ كَمَا يُفْسِدُ الصَّبِرَ الْعَسَلَ 
Marah bisa merusak iman seperti cuka merusak madu 

٩. الْغَضَبُ مِفْتَاحُ كُلِّ شَرٍّ 
Marah adalah kunci setiap keburukan 

۱٠. الْحَسَدُ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النّارُ الْحَطَبَ 
Dengki bisa memakan kebaikan seperti api yang membakar kayu 

Hadits kelas 2

Hadits kelas 2

۱. اَدِّبُوْا أَوْلَادَكُمْ عَلٰى ثَلَاثِ خِصَالٍ: حُبِّ نَبِيِّكُمْ،  وَحُبِّ اَهْلِ بَيْتِهِ، وَقِرَاءَةِ الْقُرْأٰنِ. 
Didiklah anak-anakmu sekalian dengan tiga perkara: 
1. Cinta nabinya 
2. Cinta keluarga (ahli bait) nabi.
3. Cinta membaca alqur'an 

٢. تَعَلَّمُوْا مِنَ الْعِلْمِ مَا شِئْتُمْ 
Belajarlah dari ilmu apapun yang engkau kehendaki 

٣. لِكُلِّ شَيْئٍ طَرِيْقٌ، وَطَرِيْقُ الْجَنَّةِ الْعِلْمُ 
Segala sesuatu ada jalannya,  jalan surga adalah ilmu 

٤. لِكُلِّ شَيْئٍ مِفْتَاحٌ،  وَمِفْتَاحُ الْجَنَّةِ حُبُّ الْمَسَاكِيْنِ وَالْفُقَرَاءِ.
Segala sesuatu ada kuncinya,  kunci surga adalah cinta pada fakir miskin. 

٥. الْعِلْمُ خَزَائِنُ وَ مِفْتَاحُهَا السُّؤَالُ
Ilmu ibarat sebuah gedung dan kuncinya adalah bertanya. 

٦. خَيْرُ الدُّنْيَا وَالْاٰخِرَةِ مَعَ الْعِلْمِ 
Kebaikan dunia dan akhirat dapat dicapai dengan ilmu 

٧. هَلَاكُ أُمَّتِيْ فِى شَيْئَيْنِ: تَرْكِ الْعِلْمِ وَجَمْعِ الْمَالِ 
Rusaknya umatku disebabkan dua perkara: meninggalkan ilmu dan mengumpulkan harta 

٨. كَاتِمُ الْعِلْمِ يَلْعَنُهُ كُلُّ شَيْئٍ 
Orang yang menyembunyikan ilmu akan dilaknat oleh segala sesuatu 

٩. عَلِّمُوْا أَوْلَادَكُمْ السِْبَاحَةَ وَالرّمَايَةَ 
Ajarilah anak-anakmu berenang dan memanah 

۱٠. الْعِلْمُ حَيَاةُ الْاِسْلَامِ وَعِمَادُ الْاِيْمَانِ 
Ilmu adalah hidup (ruh) islam dan tiang dari iman. 

Senin, 10 Agustus 2020

Urutan bagan hadits

Bagan Jenis / Derajad Hadits

Bagan


Jenis / Derajad Hadits


I. Mutawatir 


II. Masyhur 


III. Ahad

Ada yang Maqbul ada yang Mardud

Maqbul Mardud

1. Sahih 

2. Hasan 

3. Dhaif *) 

4. Maudlu

5. Masyhur

6. Azis

a. sahih b. sahih a. hasan b. hasan 

7. Gharib; lidzatih lighairihih lidzatih lighairihih 

8. Muttabi

9. Syahid

10. Marfu

11. Musnad

12. Maushul/Muttashil

a. Mutawatir b. Mutawatir c. Mutawatir 

13. Mauquf

Lafdhy amali manawy 

14. Mahfudh

15. Syadz

16. Maruf

17.Munkar

18. Muhkam

19. Mutasyabih

*Dengan catatan :

- Dhoif yang tidak terlalu

- Bukan masalah hukum

- Bukan masalah akidah / halal-haram

- Menerangkan Fadhilah amal

- Janji surga dan ancaman siksa neraka

- Cerita cerita atau masalah yang mubah

20. Mukhtalif

21. Nasikh

22. Mansukh

23. Rajih

24. Marjuh

25. Maqthu

26. Mursal

27. Munqathi

28.Mudlal/Musykil

29. Muallaq

30.Mudallas

31. Muallal

32. Mudltharab

33. Matruk

34. Mudraj

35. Maqlub

36. Musalsal

37. Muanan

38. Mushahaf

39. Muannan

40. Mudabbaj

41. Sabiq

42. Lahiq 

43. Ali 

44. Nazil. 

45. Mubham

46. Muharraf

47. Qudsy

Minggu, 24 Mei 2020

Biografi syeikh atho'illah assakandari

Pengarang kitab al-Hikam yang cukup populer di negeri kita ini adalah Tajuddin, Abu al-Fadl, Ahmad bin Muhammad bin Abd al-Karim bin Atho' al-Sakandari al-Judzami al-Maliki as-Syadzili. Ia berasal dari bangsa Arab. Nenek moyangnya berasal dari Judzam yaitu salah satu Kabilah Kahlan yang berujung pada Bani Ya'rib bin Qohton, bangsa Arab yang terkenal dengan Arab al-Aa'ribah. Kota Iskandariah merupakan kota kelahiran sufi besar ini. Suatu tempat di mana keluarganya tinggal dan kakeknya mengajar. Kendatipun namanya hingga kini demikian harum, namun kapan sufi agung ini dilahirkan tidak ada catatan yang tegas. Dengan menelisik jalan hidupnya DR. Taftazani bisa menengarai bahwa ia dilahirkan sekitar tahun 658 sampai 679 H.

Nenek moyangnya berasal dari Judzam yaitu salah satu kabilah Kahlan yang berujung pada Bani Ya’rib bin Qohton, bangsa Arab yang terkenal dengan Arab al-Aa’ribah. Kota Iskandariah merupakan kota kelahiran sufi besar ini. Suatu tempat di mana keluarganya tinggal dan kakeknya mengajar. Kendatipun namanya hingga kini demikian harum. lalu beliau pindah ke Kairo Mesir pada masa kekuasaan Dinasti Mameluk. Di kota inilah ia menghabiskan hidupnya dengan mengajar fikih mazhab Imam Maliki di berbagai lembaga intelektual, antara lain Masjid Al-Azhar. Di waktu yang sama dia juga dikenal luas dibidang tasawuf sebagai seorang “master” (syeikh) besar ketiga di lingkungan tarekat sufi Syadziliyah ini.

Ibn ‘Atha'illah dikenal sebagai sosok yang dikagumi dan bersih. Ia menjadi panutan bagi banyak orang yang meniti jalan menuju Tuhan. Menjadi teladan bagi orang-orang yang ikhlas, dan imam bagi para juru nasihat. Ia dikenal sebagai master atau syaikh ketiga dalam lingkungan tarikat Syadzili setelah yang pendirinya Abu al Hasan Asy Syadzili dan penerusnya, Abu Al Abbas Al Mursi. Dan Ibn ‘Athai'llah inilah yang pertama menghimpun ajaran-ajaran, pesan-pesan, doa dan biografi keduanya, sehingga khazanah tarikat syadziliah tetap terpelihara.

Meski ia tokoh kunci di sebuah tariqat, bukan berarti aktifitas dan pengaruh intelektualismenya hanya terbatas di tariqat saja. Kitab-kitab ibn Atha'illah dibaca luas oleh kaum muslimin dari berbagai kelompok, bersifat lintas mazhab dan tariqat, terutama kitab Al Hikam yang melegenda saat ini.

Keluarga Ibnu Atho’ adalah keluarga yang terdidik dalam lingkungan agama, kakek dari jalur nasab ayahnya adalah seorang ulama fiqih pada masanya. Tajuddin remaja sudah belajar pada ulama terkenal di Iskandariah seperti al-Faqih Nasiruddin al-Mimbar al-Judzami. Kota Iskandariah pada masa Ibnu Atho’ memang salah satu kota ilmu di semenanjung Mesir, karena Iskandariah banyak dihiasi oleh banyak ulama dalam bidang fiqih, hadits, usul, dan ilmu-ilmu bahasa arab, tentu saja juga memuat banyak tokoh-tokoh tasawwuf dan para Auliya’ Sholihin.
Oleh karena itu tidak mengherankan bila Ibnu Atho’illah tumbuh sebagai seorang faqih, sebagaimana harapan dari kakeknya. Namun kefaqihannya terus berlanjut sampai pada tingkatan tasawuf. Hal mana membuat kakeknya secara terang-terangan tidak menyukainya.

Ayahnya termasuk semasa dengan Syaikh Abu al-Hasan al-Syadili  pendiri Thariqah al-Syadziliyyah sebagaimana diceritakan Ibnu Atho’ dalam kitabnya “Lathoiful Minan“ : “Ayahku bercerita kepadaku, suatu ketika aku menghadap Syaikh Abu al-Hasan al-Syadzili, lalu aku mendengar beliau mengatakan: “Demi Allah… kalian telah menanyai aku tentang suatu masalah yang tidak aku ketahui jawabannya, lalu aku temukan jawabannya tertulis pada pena, tikar dan dinding”.

Ibnu Atho’ menceritakan dalam kitabnya “Lathoiful minan” : “Bahwa kakeknya adalah seorang yang tidak setuju dengan tasawwuf, tapi mereka sabar akan serangan dari kakeknya. Di sinilah guru Ibnu Atho’ yaitu Abul Abbas al-Mursy mengatakan: “Kalau anak dari seorang alim fiqih Iskandariah (Ibnu Atho’illah) datang ke sini, tolong beritahu aku”, dan ketika aku datang, al-Mursi mengatakan: “Malaikat jibril telah datang kepada Nabi bersama dengan malaikat penjaga gunung ketika orang quraisy tidak percaya pada Nabi. Malaikat penjaga gunung lalu menyalami Nabi dan mengatakan: ” Wahai Muhammad.. kalau engkau mau, maka aku akan timpakan dua gunung pada mereka”. Dengan bijak Nabi mengatakan : ” Tidak… aku mengharap agar kelak akan keluar orang-orang yang bertauhid dan tidak musyrik dari mereka”. Begitu juga, kita harus sabar akan sikap kakek yang alim fiqih (kakek Ibnu Atho’illah) demi orang yang alim fiqih ini”. Pada akhirnya Ibn Atho’ memang lebih terkenal sebagai seorang sufi besar. Namun menarik juga perjalanan hidupnya, dari didikan yang murni fiqh sampai bisa memadukan fiqh dan tasawuf. Oleh karena itu buku-buku biografi menyebutkan riwayat hidup Atho’illah menjadi tiga masa :

Pertama, Masa ini dimulai ketika ia tinggal di Iskandariah sebagai pencari ilmu agama seperti tafsir, hadits, fiqih, usul, nahwu dan lain-lain dari para alim ulama di Iskandariah. Pada periode itu beliau terpengaruh pemikiran-pemikiran kakeknya yang mengingkari para ahli tasawwuf karena kefanatikannya pada ilmu fiqih, dalam hal ini Ibnu Atho’illah bercerita: “Dulu aku adalah termasuk orang yang mengingkari Abu al-Abbas al-Mursi, yaitu sebelum aku menjadi murid beliau”. Pendapat saya waktu itu bahwa yaang ada hanya ulama ahli dzahir, tapi mereka (ahli tasawwuf) mengklaim adanya hal-hal yang besar, sementara dzahir syariat menentangnya”.

Kedua, Masa ini merupakan masa paling penting dalam kehidupan sang guru pemburu kejernihan hati ini. Masa ini dimulai semenjak ia bertemu dengan gurunya, Abu al-Abbas al-Mursi, tahun 674 H, dan berakhir dengan kepindahannya ke Kairo. Dalam masa ini sirnalah keingkarannya ulama’ tasawwuf. Ketika bertemu dengan al-Mursi, ia jatuh kagum dan simpati. Akhirnya ia mengambil Thariqah langsung dari gurunya ini.

Ada cerita menarik mengapa ia beranjak memilih dunia tasawuf ini. Suatu ketika Ibn Atho’ mengalami goncangan batin, jiwanya tertekan. Dia bertanya-tanya dalam hatinya : “apakah semestinya aku membenci tasawuf. Apakah suatu yang benar kalau aku tidak menyukai Abul Abbas al-Mursi ?. setelah lama aku merenung, mencerna akhirnya aku beranikan diriku untuk mendekatnya, melihat siapa al-Mursi sesungguhnya, apa yang ia ajarkan sejatinya. Kalau memang ia orang baik dan benar maka semuanya akan kelihatan. Kalau tidak demikian halnya biarlah ini menjadi jalan hidupku yang tidak bisa sejalan dengan tasawuf.

Lalu aku datang ke majlisnya. Aku mendengar, menyimak ceramahnya dengan tekun tentang masalah-masalah syara’. Tentang kewajiban, keutamaan dan sebagainya. Di sini jelas semua bahwa ternyat al-Mursi yang kelak menjadi guru sejatiku ini mengambil ilmu langsung dari Tuhan. Dan segala puji bagi Allah, Dia telah menghilangkan rasa bimbang yang ada dalam hatiku”.

Maka demikianlah, ketika ia sudah mencicipi manisnya tasawuf hatinya semakin tertambat untuk masuk ke dalam dan lebih dalam lagi. Sampai-sampai ia punya dugaan tidak akan bisa menjadi seorang sufi sejati kecuali dengan masuk ke dunia itu secara total, menghabiskan seluruh waktunya untuk sang guru dan meningalkan aktivitas lain. Namun demikian ia tidak berani memutuskan keinginannya itu kecuali setelah mendapatkan izin dari sang guru al-Mursi.

Dalam hal ini Ibn Athoilah menceritakan : “Aku menghadap guruku al-Mursi, dan dalam hatiku ada keinginan untuk meninggalkan ilmu dzahir. Belum sempat aku mengutarakan apa yang terbersit dalam hatiku ini tiba-tiba beliau mengatakan : “Di kota Qous aku mempunyai kawan namanya Ibnu Naasyi’. Dulu dia adalah pengajar di Qous dan sebagai wakil penguasa. Dia merasakan sedikit manisnya tariqah kita. Kemudian ia menghadapku dan berkata : “Tuanku… apakah sebaiknya aku meninggalkan tugasku sekarang ini dan berkhidmat saja pada tuan?”. Aku memandangnya sebentar kemudian aku katakan : “Tidak demikian itu tariqah kita. Tetaplah dengan kedudukan yang sudah di tentukan Allah padamu. Apa yang menjadi garis tanganmu akan sampai padamu juga”.

Setelah bercerita semacam itu yang sebetulnya adalah nasehat untuk diriku beliau berkata: “Beginilah keadaan orang-orang al-Siddiqiyyin. Mereka sama sekali tidak keluar dari suatu kedudukan yang sudah ditentukan Allah sampai Dia sendiri yang mengeluarkan mereka”. Mendengar uraian panjang lebar semacam itu aku tersadar dan tidak bisa mengucapkan sepatah katapun. Dan alhamdulillah Allah telah menghapus angan kebimbangan yang ada dalam hatiku, sepertinya aku baru saja melepas pakaianku. Aku pun rela tenang dengan kedudukan yang diberikan oleh Allah”.

Ketiga, Masa ini dimulai semenjak kepindahan Ibn Atho’ dari Iskandariah ke Kairo. Dan berakhir dengan kepindahannya ke haribaan Yang Maha Asih pada tahun 709 H. Masa ini adalah masa kematangan dan kesempurnaan Ibnu Atho’illah dalam ilmu fiqih dan ilmu tasawwuf. Ia membedakan antara Uzlah dan kholwah. Uzlah menurutnya adalah pemutusan (hubungan) maknawi bukan hakiki, lahir dengan makhluk, yaitu dengan cara si Salik (orang yang uzlah) selalu mengontrol dirinya dan menjaganya dari perdaya dunia. Ketika seorang sufi sudah mantap dengan uzlah-nya dan nyaman dengan kesendiriannya ia memasuki tahapan khalwah. Dan khalwah dipahami dengan suatu cara menuju rahasia Tuhan, kholwah adalah perendahan diri dihadapan Allah dan pemutusan hubungan dengan selain Allah SWT.

Menurut Ibnu Atho’illah, ruangan yang bagus untuk ber-khalwah adalah yang tingginya, setinggi orang yang berkhalwat tersebut. Panjangnya sepanjang ia sujud. Luasnya seluas tempat duduknya. Ruangan itu tidak ada lubang untuk masuknya cahaya matahari, jauh dari keramaian, pintunya rapat, dan tidak ada dalam rumah yang banyak penghuninya. Ibnu Atho’illah sepeninggal gurunya Abu al-Abbas al-Mursi tahum 686 H, menjadi penggantinya dalam mengembangkan Tariqah Syadziliah. Tugas ini ia emban di samping tugas mengajar di kota Iskandariah. Maka ketika pindah ke Kairo, ia bertugas mengajar dan ceramah di Masjid al-Azhar.

Ibnu Hajar berkata: “Ibnu Atho’illah berceramah di Azhar dengan tema yang menenangkan hati dan memadukan perkatan-perkatan orang kebanyakan dengan riwayat-riwayat dari salafus soleh, juga berbagai macam ilmu. Maka tidak heran kalau pengikutnya berjubel dan beliau menjadi simbol kebaikan”. Hal senada diucapkan oleh Ibnu Tagri Baradi : “Ibnu Atho’illah adalah orang yang sholeh, berbicara di atas kursi Azhar, dan dihadiri oleh hadirin yang banyak sekali. Ceramahnya sangat mengena dalam hati. Dia mempunyai pengetahuan yang dalam akan perkataan ahli hakekat dan orang orang ahli tariqah”. Termasuk tempat mengajar beliau adalah Madrasah al-Mansuriah di Hay al-Shoghoh. Beliau mempunyai banyak anak didik yang menjadi seorang ahli fiqih dan tasawwuf, seperti Imam Taqiyyuddin al-Subki, ayah Tajuddin al-Subki, pengarang kitab “Thabaqoh al-syafi’iyyah al-Kubro”.

Karomah Ibnu 'Atho'illah
Al-Munawi dalam kitabnya “Al-Kawakib al-durriyyah mengatakan: “Syaikh Kamal Ibnu Humam ketika ziarah ke makam wali besar ini membaca Surat Hud sampai pada ayat yang artinya: “Diantara mereka ada yang celaka dan bahagia…”. Tiba-tiba terdengar suara dari dalam liang kubur Ibn Athoillah dengan keras: “Wahai Kamal… tidak ada diantara kita yang celaka”. Demi menyaksikan karomah agung seperti ini Ibnu Humam berwasiat supaya dimakamkan dekat dengan Ibnu Atho’illah ketika meninggal kelak.

Di antara karomah Ibn Athoillah yang lainnya adalah, suatu ketika salah satu murid beliau berangkat haji. Di sana si murid itu melihat Ibn Athoillah sedang thawaf. Dia juga melihat sang guru ada di belakang maqam Ibrahim, di Mas’aa dan Arafah. Ketika pulang, dia bertanya pada teman-temannya apakah sang guru pergi haji atau tidak. Si murid langsung terperanjat ketiak mendengar teman-temannya menjawab “Tidak”. Kurang puas dengan jawaban mereka, dia menghadap sang guru. Kemudian pembimbing spiritual ini bertanya : “Siapa saja yang kamu temui ?” lalu si murid menjawab : “Tuanku… saya melihat tuanku di sana “. Dengan tersenyum al-arif billah ini menerangkan : “Orang besar itu bisa memenuhi dunia. Seandainya saja Wali Quthb di panggil dari liang tanah, dia pasti menjawabnya”.

Guru dan Murid
Ajaran tasawuf yang tertanam pada Ibnu Atho'illah banyak diperoleh setelah beliau sering mengamalkan ilmu agama yang dia miliki dan dengan seringnya bergaul dan bertemu dengan para sufi yang pada akhirnya dapat merubah pola hidupnya dan mengikuti kehidupan para sufi, diantara guru-guru beliau adalah Syech al-Faqih Nasiruddin al-Mimbar al-Judzami, Syekh Abul Abbas Al Mursy, Nadruddin al Munir, Syarafuddin al Dimyati, al Muhyil al Mazani, Syamsuddin al Asfani.

Setelah beliau memiliki dasar ilmu agama yang kuat dan sudah memperoleh ajaran tasawuf dari gurunya, kemudian beliau mengajarkan ilmu-ilmunya kepada murid-muridnya di Kairo Mesir, dan diantara murid-muridnya ada yang menjadi ulama terkenal seperti Imam Taqiyyuddin al Subki, Abu Abbas Ahmad bin Malik, Daud bin Bahla dan lain-lainnya.


Masjid tempat dimakamkan Syaikh Ibnu 'Athoillah as-Sakandari


Makam Syaikh Ibnu 'Athoillah as-Sakandari

Pandangan tentang Maqam Sufi
Dalam pandangan tasawuf secara umum, konsep maqām dan hāl adalah dua konsep yang sangat berhubungan dengan salik (pejalan sufi).
Maqām adalah tahapan-tahapan thariqah yang harus dilalui oleh seorang salik, yang membuahkan keadaan tertentu yang merasuk dalam diri salik. Semisal maqām taubat; seorang salik dikatakan telah mencapai maqām ini ketika dia telah bermujahadah dengan penuh kesungguhan untuk menjauhi segala bentuk maksiat dan nafsu syahwati. Dengan demikian, maqām adalah suatu keadaan tertentu yang ada pada diri salik yang didapatnya melalui proses usaha riyadhah (melatih hawa nafsu).

Sedangkan yang dimaksud dengan hāl − sebagaimana diungkapkan oleh al-Qusyairi − adalah suatu keadaan yang dianugerahkan kepada seorang sālik tanpa melalui proses usaha riyadhah.

Namun, dalam konsep maqām ini Ibn Atha’illah memiliki pemikiran yang berbeda, dia memandang bahwa suatu maqām dicapai bukan karena adanya usaha dari seorang salik, melainkan semata anugerah Allah swt. Karena jika maqām dicapai karena usaha salik sendiri, sama halnya dengan menisbatkan bahwa salik memiliki kemampuan untuk mencapai suatu maqām atas kehendak dan kemampuan dirinya sendiri.

Pun jika demikian, maka hal ini bertentangan dengan konsep fana’ iradah, yaitu bahwa manusia sama sekali tidak memiliki kehendak, dan juga bertentangan dengan keimanan kita bahwa Allah yang menciptakan semua perbuatan manusia. Dengan demikian, bagi seorang salik untuk mencapai suatu maqām hendaknya salik menghilangkan segala kehendak dan angan-angannya (isqath al-iradah wa al-tadbir).

Mengenai maqām, Ibn Atha’illah membaginya tingkatan maqam sufi menjadi 9 tahapan;
1. Maqam taubat
2. Maqam zuhud
3. Maqam shabar
4. Maqam syukur
5. Maqam khauf
6. Maqam raja’
7. Maqam ridha
8. Maqam tawakkal
9. Maqam mahabbah

Maqam Taubat
Taubat adalah maqam awal yang harus dilalui oleh seorang salik. Sebelum mencapai maqam ini seorang salik tidak akan bisa mencapai maqam-maqam lainnya. Karena sebuah tujuan akhir tidak akan dapat dicapai tanpa adanya langkah awal yang benar.

Cara taubat sebagaimana pandangan Ibn Atha’illah adalah dengan bertafakkur dan berkhalwat. sedang tafakkur itu sendiri adalah hendaknya seorang salik melakukan instropeksi terhadap semua perbuatannya di siang hari. Jika dia mendapati perbuatannya tersebut berupa ketaatan kepada Allah, maka hendaknya dia bersyukur kepada-Nya. Dan sebaliknya jika dia mendapati amal perbuatannya berupa kemaksiatan, maka hendaknya dia segera beristighfar dan bertaubat kepada-Nya.

Untuk mencapai maqam taubat ini, seorang salik harus meyakini dan mempercayai bahwa irodah (kehendak) Allah meliputi segala sesuatu yang ada. Termasuk bentuk ketaatan salik, keadaan lupa kepada-Nya, dan nafsu syahwatnya, semua atas kehendak-Nya.

Sedangkan hal yang dapat membangkitkan maqam taubat ini adalah berbaik sangka (husn adz-dzon) kepada-Nya. Jika seorang salik terjerumus dalam sebuah perbuatan dosa, hendaknya ia tidak menganggap bahwa dosanya itu sangatlah besar sehingga menyebabkan dirinya merasa putus asa untuk bisa sampai kepada-Nya.

Maqam Zuhud
Dalam pandangan Ibn ‘Aţā’illah, zuhd ada 2 macam; Zuhd Ẓahir Jalī seperti zuhd dari perbuatan berlebih-lebihan dalam perkara ḥalal, seperti: makanan, pakaian, dan hal lain yang tergolong dalam perhiasan duniawi. Dan Zuhd Bāţin Khafī seperti zuhd dari segala bentuk kepemimpinan, cinta penampilan zahir, dan juga berbagai hal maknawi yang terkait dengan keduniaan”.

Hal yang dapat membangkitkan maqām zuhd adalah dengan merenung (ta’ammul). Jika seorang sālik benar-benar merenungkan dunia ini, maka dia akan mendapati dunia hanya sebagai tempat bagi yang selain Allah, dia akan mendapatinya hanya berisikan kesedihan dan kekeruhan. Jikalau sudah demikian, maka sālik akan zuhd terhadap dunia. Dia tidak akan terbuai dengan segala bentuk keindahan dunia yang menipu.

Maqām zuhd tidak dapat tercapai jika dalam hati sālik masih terdapat rasa cinta kepada dunia, dan rasa ḥasud kepada manusia yang diberi kenikmatan duniawi. Alangkah indahnya apa yang dikatakan oleh Ibn ‘Aţā’illah: ”Cukuplah kebodohan bagimu jika engkau ḥasud kepada mereka yang diberi kenikmatan dunia. Namun, jika hatimu sibuk dengan memikirkan kenikmatan dunia yang diberikan kepada mereka, maka engkau lebih bodoh daripada mereka. Karena mereka hanya disibukkan dengan kenikmatan yang mereka dapatkan, sedangkan engkau disibukkan dengan apa yang tidak engkau dapatkan”.

Inti dari zuhd adalah keteguhan jiwa, yaitu tidak merasa bahagia dengan kenikmatan dunia yang didapat, dan tidak bersedih dan putus asa atas kenikmatan dunia yang tidak didapat.

Seorang salik tidak dituntut menjadi orang yang faqir yang sama sekali tidak memiliki apa-apa. Karena ciri-ciri seorang zuhd ada dua; yaitu saat kenikmatan dunia tidak ada dan saat kenikmatan dunia itu ada. Ini dimaksudkan bahwa jika kenikmatan dunia itu didapat oleh sālik, maka dia akan menghargainya dengan bershukur dan memanfaatkan nikmat tersebut hanya karena Allah. Sebaliknya, jika nikmat sirna dari dirinya, maka dia merasa nyaman, tenang dan tidak sedih.

Maqam Sabar
Ibn ‘Ata’illah membagi sabar menjadi 3 macam sabar terhadap perkara haram, sabar terhadap kewajiban, dan sabar terhadap segala perencanaan (angan-angan) dan usaha.

Sabar terhadap perkara haram adalah sabar terhadap hak-hak manusia. Sedangkan sabar terhadap kewajiban adalah sabar terhadap kewajiban dan keharusan untuk menyembah kepada Allah. Segala sesuatu yang menjadi kewajiban ibadah kepada Allah akan melahirkan bentuk sabar yang ketiga yaitu sabar yang menuntut salik untuk meninggalkan segala bentuk angan-angan kepada-Nya.

“Sabar atas keharaman adalah sabar atas hak-hak kemanusiaan. Dan sabar atas kewajiban adalah sabar atas kewajiban ibadah. Dan semua hal yang termasuk dalam kewajiban ibadah kepada Allah mewajibkan pula atas salik untuk meniadakan segala angan-angannya bersama Allah”.

Sabar bukanlah suatu maqam yang diperoleh melalui usaha salik sendiri. Namun, sabar adalah suatu anugerah yang diberikan Allah kepada salik dan orang-orang yang dipilih-Nya.

Maqam sabar itu dilandasi oleh keimanan yang sempurna terhadap kepastian dan ketentuan Allah, serta menanggalkan segala bentuk perencanaan (angan-angan) dan usaha.

Maqam Syukur
Syukur dalam pandangan Ibn ‘Ata’illah terbagi menjadi 3 macam; pertama syukur dengan lisan, yaitu mengungkapkan secara lisan, menceritakan nikmat yang didapat. Kedua, syukur dengan anggota tubuh, yaitu syukur yang diimplementasikan dalam bentuk ketaatan. Ketiga, syukur dengan hati, yaitu dengan mengakui bahwa hanya Allah Sang Pemberi Nikmat, segala bentuk kenikmatan yang diperoleh dari manusia semata-mata dari-Nya.

Sebagaimana diungkapkan oleh Ibn ‘Ata’illah:
“Dalam syukur menurut Ibn ‘Ata’illah terdapat tiga bagian; syukur lisan yaitu memberitakan kenikmatan (pada orang lain), syukur badan adalah beramal dengan ketaatan kepada Allah, dan syukur hati adalah mengakui bahwa Allah semata Sang Pemberi nikmat. Dan segala bentuk kenikmatan dari seseorang adalah semata-mata dari Allah.”

Ibn ‘Ata’illah juga menjelaskan bahwa bentuk syukur orang yang berilmu adalah dengan menjadikan ilmunya sebagai landasan untuk memberi petunjuk kepada manusia lainnya. Sedangkan bentuk syukur orang yang diberi kenikmatan kekayaan adalah dengan menyalurkan hartanya kepada mereka yang membutuhkan. Bentuk syukur orang yang diberi kenikmatan berupa jabatan dan kekuasaan adalah dengan memberikan perlindungan dan kesejahteraan terhadap orang-orang yang ada dalam kekuasaannya.

Lebih lanjut Ibn ‘Aţā’illah memaparkan bahwa syukur juga terbagi menjadi 2 bagian; syukur ẓāhir dan syukur bāţin. Syukur ẓāhir adalah melaksanakan perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Sedangkan syukur bāţin adalah mengakui dan meyakini bahwa segala bentuk kenikmatan hanyalah dari Allah semata.

Manfaat dari syukur adalah menjadikan anugerah kenikmatan yang didapat menjadi langgeng, dan semakin bertambah. Ibn ‘Ata’illah memaparkan bahwa jika seorang salik tidak mensyukuri nikmat yang didapat, maka bersiap-siaplah untuk menerima sirnanya kenikmatan tersebut. Dan jika dia mensyukurinya, maka rasa syukurnya akan menjadi pengikat kenikmatan tersebut. Allah berfirman: لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأَزِيْدَنَّكُمْ (Jika kalian bersyukur [atas nikmat-Ku) niscaya akan kutambah [kenikmatan itu]).1

Jika seorang salik tidak mengetahui sebuah nikmat yang diberikan Allah kepada-Nya, maka dia akan mengetahuinya ketika nikmat tersebut telah hilang. Hal inilah yang telah diperingatkan oleh Ibn ‘Ata’illah.

Lebih lanjut Ibn ‘Ata’illah menambahkan hendaknya seorang salik selalu bersyukur kepada Allah sehingga ketika Allah memberinya suatu kenikmatan, maka dia tidak terlena dengan kenikmatan tersebut dan menjadikan-Nya lupa kepada Sang Pemberi Nikmat.

Meskipun pada dasarnya semua kenikmatan pada hakikatnya adalah dari Allah, syukur kepada makhluk juga menjadi kewajiban seorang salik. Dia harus bersyukur terhadap apa yang telah diberikan orang lain kepadanya, karena hal ini adalah suatu tuntutan syari‘at, seraya mengakui dan meyakini dalam hati bahwa segala bentuk kenikmatan tersebut adalah dari Allah.

Pengejawantahan syukur tetap harus dilandasi dengan menanggalkan segala bentuk angan-angan dan keinginan. Akal adalah kenikmatan paling agung yang diberikan Allah kepada manusia. Karena akal inilah manusia menjadi berbeda dari sekalian makhluk. Namun, dengan kelebihan akal ini pula manusia memiliki potensi untuk bermaksiat kepada Allah. Dengan akal ini manusia dapat berpikir, berangan-angan, dan berkehendak. Sehingga manusia memiliki potensi untuk mengangan-angankan dan menginginkan suatu bentuk kenikmatan yang akan diberikan oleh Allah. Hal inilah yang harus ditiadakan dalam pengejawantahan syukur.

Maqam khauf
Seorang salik dapat mencapai derajat maqam khauf apabila dia merasa takut atas sirnanya ḥal dan maqamnya, karena dia tahu bahwa Allah memiliki kepastian hukum dan kehendak yang tidak dapat dicegah. Ketika Allah berkehendak untuk mencabut suatu maqām dan ḥal yang ada pada diri salik, seketika itu juga Allah akan mencabutnya.

“Bukti dari makna ini mengharuskan maqām khauf bagi seorang hamba terwujud, ketika dia memiliki ucapan yang baik dan perilaku yang terpuji maka dia tak akan terputus maqām khauf ini, serta dia tidak terpedaya dengan urusan duniawi, karena hukum kepastian dan kehendak Allah terwujud.”

Khauf seorang sālik bukanlah sekedar rasa takut semata. Khauf pasti diiringi dengan rajā’ (harapan) kepada Allah, karena khauf adalah pembangkit dari rajā’. Maqām khauf adalah maqām yang membangkitkan maqām rajā’. Rajā’ tidak akan ada jika khauf tidak ada.

Ibn ‘Atā’illah menyatakan bahwa jika sālik ingin agar dibuka baginya pintu rajā’ maka hendaknya dia melihat apa yang diberikan Allah kepadanya berupa anugerah maqām, ḥal dan berbagai kenikmatan yang dia terima. Jika dia ingin agar terbuka baginya pintu khauf, maka hendaknya dia melihat apa yang dia berikan kepada-Nya berupa peribadatan dan ketaatan penuh pada-Nya. Sebagaimana diutarakan oleh Ibn ‘Atā’illah:
”Jika engkau ingin agar Allah membukakan bagimu pintu rajā’, maka lihatlah segala sesuatu yang diberikan Allah kepadamu. Dan jika engkau ingin agar Allah membukakan bagimu pintu khauf, maka lihatlah apa yang telah kau berikan kepada-Nya.”

Rajā’ bukan semata-mata berharap, rajā’ harus disertai dengan perbuatan. Jika rajā’ hanya berupa harapan tanpa perbuatan, maka tidak lain itu hanyalah sebuah angan-angan atau impian belaka. Dengan demikian wajib bagi seorang sālik untuk menyertakan rajā’nya dengan amal kepatuhan, dan peribadatan yang dapat mendekatkan dirinya kepada Allah secara kontinu.

Jika rajā’ sudah ada dalam diri sālik, maka rajā’ ini akan semakin menguatkan khauf yang ada pada dirinya. Karena suatu harapan, pasti akan disertai dengan rasa takut akan sesuatu, sehingga dapat dinyatakan bahwa khauf akan melahirkan rajā’, dan rajā’ akan menjadi penguat khauf.

Maqam Ridha dan Tawakkal
Riḍa dalam pandangan Ibn ‘Ata’illah adalah penerimaan secara total terhadap ketentuan dan kepastian Allah. Hal ini didasarkan pada QS. al-Mā’idah ayat 119:
(Allah riḍa terhadap mereka, dan mereka riḍa kepada Allah), dan juga sabda Rasulullah SAW.:
(Orang yang merasakan [manisnya] iman adalah orang yang riḍa kepada Allah).

Maqam riḍa bukanlah maqam yang diperoleh atas usaha salik sendiri. Akan tetapi riḍa adalah anugerah yang diberikan Allah.
Jika maqam riḍa sudah ada dalam diri sālik, maka sudah pasti maqām tawakkal juga akan terwujud. Oleh karena itu, ada hubungan yang erat antara maqām riḍa dan maqām tawakkal. Orang yang riḍa terhadap ketentuan dan kepastian Allah, dia akan menjadikan Allah sebagai penuntun dalam segala urusannya, dia akan berpegang teguh kepada-Nya, dan yakin bahwa Dia akan menentukan yang terbaik bagi dirinya.
Maqām tawakkal akan membangkitkan kepercayaan yang sempurna bahwa segala sesuatu ada dalam kekuasaan Allah. Sebagaimana termaktub dalam QS. Hūd ayat 123:
(…kepada-Nya lah segala urusan dikembalikan, maka sembahlah Dia, dan bertawakkallah kepada-Nya).

Sebagaimana maqām-maqām lainnya, maqām riḍa dan tawakkal tidak akan benar jika tanpa menanggalkan angan-angan. Ibn ‘Aţā’illah menyatakan bahwa angan-angan itu bertentangan dengan tawakkal, karena barangsiapa telah berpasrah kepada Allah, dia akan menjadikan Allah sebagai penuntunnya, dia akan berpegang teguh kepada-Nya atas segala urusannya, dan jika sudah demikian tiadalah bagi dirinya segala bentuk angan-angan.

“Perencanaan (tadbīr) juga bertentangan dengan maqam tawakkal karena seorang yang bertawakkal kepada Allah adalah orang yang menyerahkan kendali dirinya kepada-Nya, dan berpegang teguh kepada-Nya atas segala urusannya. Barangsiapa telah menetapi semua hal tersebut, maka tiada lagi perencanaan baginya, dan dia berpasrah terhadap perjalanan takdir. Peniadaan perencanaan (isqaţ tadbīr) juga terkait dengan maqām tawakkal dan riḍa, hal ini jelas, karena seorang yang riḍa maka cukup baginya perencanaan Allah atasnya. Maka bagaimana mungkin dia menjadi perencana bersama Allah, sedangkan dia telah rela dengan perencanan-Nya. Apakah engkau tidak tahu bahwa cahaya riḍa telah membasuh hati dengan curahan perencanan-Nya. Dengan demikian, orang yang riḍa terhadap Allah telah dianugrahkan baginya cahaya riḍa atas keputusan-Nya, maka tiada lagi baginya perencanaan bersama Allah…”

Hikmah riḍa kepada qaḍā’ dan qadar, antara lain dapat menghilangkan keruwetan dan kesusahan. Musibah yang diperoleh seseorang, jika dihadapi/dengan pikiran yang lapang dan dengan bekerja yang sungguh-sungguh di sanalah seseorang akan mendapatkan jalan dan petunjuk yang lebih berguna, daripada dihadapi dengan meratapi kesusahan-kesusahan itu, yang tidak ada berkesudahan.

Dasar riḍa akan qaḍā’ dan qadar, ialah firman Allah dalam al-Qur’an:
“Orang-orang (yang mu’min) jika mereka mendapat sesuatu bencana berkatalah mereka “Bahwasanya kami ini kepunyaan Allah, dan kami (semua) pasti kembali lagi kepada-Nya.”

Jika seseorang ditimpa bencana hendaklah dia riḍa, hatinya tidak boleh mendongkol. Riḍa dengan qaḍā’ ialah menerima segala kejadian yang menimpa diri seseorang, dengan rasa senang hati dan lapang dada.

Meriḍai qaḍā’ dan qadar, karena ditimpa bencana atau menderita sesuatu, sangat disukai oleh agama. Tetapi sekali-kali tiada dibenarkan seseorang meriḍai kekufuran dan kemaksiatan.

Riḍa dengan taqdir Allah adalah suatu perangai yang terpuji dan mulia serta membiasakan jiwa menyerahkan diri atas keputusan Allah, juga dapat mendapatkan hiburan yang sempurna di kala menderita segala bencana. Dialah obat yang sangat mujarab untuk menolak penyakit gelap mata hati. Dengan riḍa atas segala ketetapan Allah, hidup seseorang menjadi tenteram dan tidak gelisah.

Seseorang wajib berkeyakinan, bahwa bencana yang menimpa seseorang, adakalanya juga merupakan cobaan bagi seorang hamba, untuk lebih suka mengoreksi segala amal perbuatan pada masa-masa yang lampau, agar seseorang dapat mengubah dan memperbaiki jejak langkah dan perbuatannya pada masa-masa yang akan datang.

Menyerah kepada qaḍā’illah (keputusan takdir) Allah termasuk tidak boleh mengandai-andaikan, misalnya andaikan tadinya dia tidak ikut rombongan ini, barangkali dia tidak termasuk korban kecelakaan ini, sebagaimana firman Allah SWT.:
Hai orang yang beriman, janganlah kamu seperti orang-orang kafir, yang berkata kepada saudara-saudara mereka tatkala mereka bepergian di bumi, atau sedang bertempur : Sekiranya bersama-sama kami, niscaya mereka tidak akan mati, dan tidak akan terbunuh. Yang demikian karena Allah hendak jadikan yang tersebut itu duka cita di hati-hati mereka dan Allah rnenghidupkan dan mematikan, dan Allah Maha melihat akan apa yang engkau kerjakan.

Maqam Mahabbah
Imam al-Ghazālī berpendapat bahwa maqām maḥabbah adalah maqām tertinggi dari sekian maqām-maqām dalam tarekat. Dia menggambarkan bahwa maḥabbah adalah tujuan utama dari semua maqām.

Namun, Ibn ‘Aţā’illah memiliki pandangan yang berbeda tentang konsep maḥabbah bahwa dalam maḥabbah seorang sālik harus menanggalkan segala angan-angannya. Dia berpendapat demikian karena alasan bahwa sālik yang telah sampai pada maḥabbah (cinta) bisa jadi dia masih mengharapkan balasan atas cintanya kepada yang dicintainya. Dari sini tampak bahwa rasa cinta sālik didasarkan atas kehendak dirinya untuk mendapatkan balasan cinta sebagaimana cintanya. Karena pecinta sejati adalah orang yang rela mengorbankan segala yang ada pada dirinya demi yang dicintainya, dan tidak mengharapkan imbalan apapun dari yang dicintainya, yang dalam konteks ini adalah Allah SWT.
”…maḥabbah (cinta) kepada Allah adalah tujuan luhur dari seluruh maqām, titik puncak dari seluruh derajat. Tiada lagi maqām setelah mahabbah, karena maḥabbah adalah hasil dari seluruh maqām, menjadi akibat dari seluruh maqām, seperti rindu, senang, riḍa dan lain sebagainya. Dan tiadalah maqām sebelum maḥabbah kecuali hanya menjadi permulaan dari seluruh permulaan maqām, seperti taubat, sabar, zuhd dan lain sebagainya…”

Karya Beliau
Sebagai seoarang sufi yang alim Ibn ‘Athaillah tergolong ulama yang produktif, meninggalkan banyak karangan sebanyak 22 kitab lebih. Mulai dari sastra, tasawuf, fiqh, nahwu, mantiq, falsafah sampai khitobah. Diantaranya :
Kitab Hikam, kitab ini sangat terkenal dan tersebar dan dipelajari banyak orang didunia yang telah diterjemahkan dalam berbagai bahasa, seperti dalam bahasa Turki, Spanyol, Inggris, melayu, Urdu dan dalam bahasa Indonesia. Dalam kitab ini memuat 42 buah kalimat yang mengandung hikmah sufi.
Kitab At Tanwir Fi Isqat al Tadbir, kitab ini berisikan petunjuk-petunjuk bagi orang-orang yang selalu ingin bersama Allah dan hal-hal yang mengganggu.
Kitab Lathoif al Minan Fi Manaqibal asy syekh Abi al Abbas al Marsi Wa Syaikhal al Sazali, kitab yang berisikan sejarah dan asal usul para pemimpin tarekat Sazaliyah, yaitu Syeikh Abu Abbas al Marsi dan Abu Hasan as Sazali.
Kitab Tajul Arus al hawi Litahzibin Nufus, kitab ini menguraikan berbagai ajaran dan penjelasan yang berkenaan dengan kehidupan sufi.
Al Qasdul Mujarrad Fi Ma'rifat al Ismal al Mufrad, kitab ini menjelaskan tentang Tuhan, sifat, Asma', Af'alnya dan cara pencapaian ma'rifat kepada Allah.
Miftahul Falah Wa Misbahul Arwah, kitab ini menguraikan pokok-pokok ajaran tentang riyadhah dan mujahadah dalam zikir, uzlah, kholwat dan lain-lain.
Kitabnya yang paling masyhur sehingga telah menjadi terkenal di seluruh dunia Islam ialah kitabnya yang bernama Al-Hikam, Kitab itu sudah beberapa kali disyarah. Antara lain oleh Muhammad bin Ibrahim ibn Ibad ar Rundi, Syaikh Ahmad Zarruq, dan Ahmad ibn Ajiba. Kitab Al-Hikam ini juga telah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa asing lain, termasuklah bahasa Melayu dan bahasa Indonesia. Kitab ini dikenali juga dengan nama al-Hikam al-atha’iyyah untuk membedakannya daripada kitab-kitab lain yang juga berjudul Hikam.

Beberapa kitab lainnya yang ditulis adalah Al-Tanwir fi Isqath al-Tadbir, ‘Unwan at-Taufiq fi’dab al-Thariq, miftah al-Falah dan al-Qaul al-Mujarrad fil al-Ism al-Mufrad. Yang terakhir ini merupakan tanggapan terhadap Syaikhul Islam ibn Taimiyyah mengenai persoalan tauhid. Kedua ulama besar itu memang hidup dalam satu zaman, dan kabarnya beberapa kali terlibat dalam dialog yang berkualitas tinggi dan sangat santun. Ibn Taimiyyah adalah sosok ulama yang tidak menyukai praktek sufisme. Sementara Ibn ‘Athai'llah dan para pengikutnya melihat tidak semua jalan sufisme itu salah. Karena mereka juga ketat dalam urusan syari’at.

Wafat
Beliau menghembuskan nafas terakhirnya di Kairo Mesir pada Tahun 709 H atau sekitar tahun 1309 M. dan dimakamkan di pemakaman al-Qorrofah al-Kubro di kaki bukit Mukattam.

Wallohu A'lam.

Rabu, 08 April 2020

amalan nisfu sakban

((أوراد ليلة النصف من شعبان))
التي تقرأ بين صلاة المغرب وصلاة العشاء :  Wirid malam nisfu sya'ban : 
Baca Surat yasin tiga kali antara maghrib dan isyak dan setiap selesai baca satu kali surat yaa siin ... Disertai do'a Dan niat :
١- سورة يس 1 pertama berniat mohon panjang umur beserta ta'at kepada alloh 

٢-سورة يس 2 berniat tolak balak dan terjaga dari mara bahaya dan wabah

٣- سورة يس 3 mohon kelapangan rizqi dan husnul khotimah

Setiap selesai baca surat yasin baca do'a ini : 
(( اللهم ياذا المنّ ولا يمن عليه ياذا الجلال والإكرام يا ذا الطول والإنعام لا إله إلا أنت ظهر اللاجئين وجار المستجيرين ومأمن الخائفين اللّهم إن كنت كتبتني عندك بأم الكتاب شقيّاً أو محروماً أو مطروداً أو مقتّراً عليّا في الرزق فامح اللّهم بفضلك شقاوتيّ وحرمانيّ وطرديّ وإقتار رزقي ، وأثبتني عندك في أمّ الكتاب سعيداً مرزوقاً موفّقاً للخيرات فإنّك قلت وقولك الحق في كتابّك المنزل على لسان نبيّك المرسل ﷺ يَمْحُو اللَّهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ ۖوَعِندَهُ أُمُّ الْكِتَابِ إلهي بتجلّي الأعظم في ليلة النصف من شهر شعبان المكرّم التي يفرق فيها كل أمرٍ حكيم ويبرم أسألك أن تكشف عنّا من البلاء ما نعلم وما لا نعلم و ما أنت به أعلم إنك أنت الله الأعز الأكرم وصلى الله تعالى على سيّدنا محمّد وعلى آله وصحبه وسلّم ))

Do'a yang ketiga disempurnakan dengan do'a ini :(( إلهي جودك دلني عليك وإحسانك أوصلني إليك وكرمك قرّبني إليك أشكو لديك ما لا يخفى عليك وأسألك ما لا يعسر عليك إذ علمك بحالي يكفي عن سؤالي يا مفرج كرب المكروبين فرّج عني ما أنا فيه لَا إِلَه إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانك إِنِّي كُنْت مِنْ الظَّالِمِينَ فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنْ الْغَمّ وَكَذَلِكَ نُنْجِي الْمُؤْمِنِينَ 
اللهم إجعلني من أعظم عبادك حظاً ونصيباً في كل شيء قسمته في هذه الليلة من نورٍ تهدي به أو رحمةٍ تنشرها أو رزقٍ تبسطه أو فضل تقسمه على عبادك المؤمنين يا الله يا الله لا إله إلا أنت اللهم هب لي قلباً تقيّاً نقيّاً من الشرك بريًا لا كافراً ولا شقيّاً وقلباً سليماً خاشعاً ضارعاً اللهم إملأ قلبّي بنورك وأنوار مشاهدتك وجمالك وكمالك ومحبّتك وعصمتك وقدرتك وعلمك يا أرحم الرّاحمين وصلّ اللهّم على سيّدنا محمّد وآله وسلّم إلهي تعرّض إليك في هذه الليلة المتعرّضون وقصدك وأمّل معروفك وفضلك الطّالبون ورغب إلى جودك وكرمك الرّاغبون ولك في هذه اللّيلة نفحات وعطايا وجوائز ومواهب و هبات تمنّ بها على من تشاء من عبادك وتخص بها من أحببته من خلقك وتمنع وتحرم من لم تسبق له العناية منك ، فأسألك يا الله بأحب الأسماء إليك وأكرم الأنبيّاء عليك أن تجعلني ممن سبقت له منك العناية واجعلني من أوفر عبادك وأجزل خلقك حظاً ونصيباً وقسمةً وهبةً وعطيّةً في كل خير تقسمه في هذه اللّيلة أو فيما بعدها من نورٍ تهدي به أو رحمةٍ تنشرها أو رزقٍ تبسطه أو ضُرٍّ تكشفه أو ذنبٍ تغفره أو شِدّةٍ تدفعها أو فتنةٍ تصرفها أو بلاءٍ ترفعه أو معافاةٍ تمنّ بها علينا أو عدوٍّ تكفيه فاكفني كل شر ووفّقني اللهم لمكارم الأخلاق وارزقني العافية والبركة وسعة الأرزاق وسلمنّي من الرجز والشّرك والنّفاق اللهم إنّ لك نسمات لطف إذا هبّت على مريضِ غفلة شفته 
وإنّ لك نفحات عطف إذا توجّهت إلى أسير هوى أطلقته
 و إنّ لك عنايات إذا لاحظت غريقاً في بحرِ ضلالة أنقذته
 و إنّ لك سعادات إذا أخذت بيد شقيٍّ أسعدته
 و إنّ لك لطائف كرم إذا ضاقت الحيلة لمذنب وسّعته
 وإنّ لك فضائل ونعما إذا تحولت إلى فاسد أصلحته 
و إنّ لك نظرات رحمة إذا نظرت بها إلى غافل أيقظّته 
فهب لي اللّهم من لطفك الخفيّ نسمة تشفي مرض غفلتي و انفحني من عطفّك الوفيّ نفحة طيّبة تطلق بها  أسري من وثاق شهوتي والحظني واحفظني بعين عنايتك ملاحظة تنقذني بها وتنجيني بها من بحر الضلالة وآتني من لدنك رحمة في الدّنيا والآخرة تبدّلني بها سعادة من شقاوة واسمع دعائي وعجل إجابتي و اقضِ حاجتي وعافني وهب لي من كرمك وجودك الواسع ما ترزقني به الإنابة إليك مع صدق اللجوء وقبول الدّعاء وأهّلني لقرع بابك للدّعاء يا جواد حتى يتصل قلبي بما عندك وتبلّغني بها إلى قصدك يا خير مقصود وأكرم معبود إبتهالي وتضرّعي في طلب معونتك واتّخذك يا إلهي مفزعاً وملجأ أرفع إليك حاجتي ومطالبي وشكواي وأبدي إليك ضرّي وأفوّض إليك أمري ومناجاتي واعتمد عليك في جميع أموري وحالاتي اللهم إن هذه الّليلة خلق من خلقك فلا تبلني فيها ولا بعدها بسوء ولا مكروه ولا تقدّر عليّا فيها معصية ولا زلّة ولا تثبّت عليّا فيها ذنبا ولا تبلني فيها إلا بالتي هي أحسن ولا تزيّن لي جراءة على محارمك ولا ركونا إلى معصيتك ولا ميلاً إلى مخالفتك ولا تركً لطاعتك ولا إستخفافاً بحقّك ولا شكاً في رزقك فأسألك اللّهم نظرة من نظراتك وعطيّة من عطاياتك اللطيفة وارزقني من فضلك واكفني شر خلقك واحفظ عليَّا دين الإسلام وأنظر إلينا بعينك التي لاتنام (رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ)٣مرات
اللّهم إنّي أسألك من خير ما تعلم ونعوذ بك من شرّ ما نعلم ونستغفرك من كل ما تعلم إنك أنت علّام الغيوب اللهم إني أسألك من خير ما تعلم وأستغفرك لما أعلم وما لا أعلم إنّ العلم عندك وهو عنّا محجوب ولا نعلم أمراً تختاره لأنفسنا وقد فوّضنا إليك أمورنا ورفعنا إليك حاجاتنا ورجوناك لفاقاتنا وفقرنا فأرشدنا يالله وثبتّنا ووفقنا إلى أحب الأمور إليك وأحمدها لديك فإنك تحكم بما تشاء وتفعل ما تريد وإنّك على كل شيءٍ قدير ولا حول ولا قوة إلا بالله العليّ العظيم وسبحان ربّك ربّ العزّة عمّا يصفون وسلام على المرسلين والحمد لله ربّ العالمين وصلّى الله على سيّدنا محمّد وعلى آله وسلّم.
=======================
 شيخنا أحمد الحبّال الرفاعي رضوان الله عليه  menganjurkan memperbanyak baca sholawat munjiyat ini :
((اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلاَةً تُنْجِينَا بِهَا مِنْ جَمِيعِ الأَهْوَالِ وَالآفَاتِ وَتَقْضِي لَنَا بِهَا جَمِيعَ الْحَاجَاتِ وَتْطَهِّرُنَا بِهَا مِنْ جَمِيعِ السَّيِّئاتِ وَتَرْفَعُنَا بِهَا عِنْدَكَ أَعْلَى الدَّرَجَاتِ وَتُبَلِّغُنَا بِهَا أَقْصَى الْغَايَاتِ مِنْ جَمِيعِ الْخَيْرَاتِ فِي الْحَيَاةِ وَبَعْدَ الْمَمَاتِ وعلى ألهِ وصَحبِهِ أجمَعِينْ))

*اللهم بارك لنا في شعبان وبالغنا رمضان*
🙏🏼🙏🏼🙏🏼 *Mudah2an Doa kita terkabulkan ...*🙏🏼🙏🏼🙏🏼🤝🏻🤝🏻🤝🏻

💙💙💙Aamiin..Aamiin...Aamiin...🙌🏻🙌🏻🙌🏻💙💙💙
*MA ...🤝🏻🤝🏻🤝🏻🙏🏼🙏🏼🙏🏼*

Selasa, 31 Maret 2020

dalil diam dirumah

💖💖💖💖💖💖💖💖

*Berdiam di Rumah (Termasuk Beribadah dan Beraktivitas) Karena Wabah, Berpahala Syahid Walaupun Tidak Meninggal*

🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹

بشرى لكم
Kabar Gembira

*من جلس في بيته في وقت وقوع الطاعون  فله أجر الشهيد وإن لم يمت..*

*Barangsiapa yang tinggal di rumahnya ketika terjadi wabah, maka dia mendapatkan pahala syahid walaupun tidak meninggal dunia.*
_______________

عَنْ عَائِشَةَ -رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا-، أَنَّهَا قَالَتْ : سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الطَّاعُونِ، فَأَخْبَرَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : " أَنَّهُ كَانَ عَذَابًا يَبْعَثُهُ اللَّهُ عَلَى مَنْ يَشَاءُ، فَجَعَلَهُ رَحْمَةً لِلْمُؤْمِنِينَ، فَلَيْسَ مِنْ رَجُلٍ يَقَعُ الطَّاعُونُ، *فَيَمْكُثُ فِي بَيْتِهِ صَابِرًا مُحْتَسِبًا* يَعْلَمُ أَنَّهُ لَا يُصِيبُهُ إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَهُ، إِلَّا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ الشَّهِيدِ ".

Dari Aisyah radhiyallahu 'anha, bahwasannya dia berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tentang wabah (tha'un), maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengabarkan kepadaku:

"Bahwasannya wabah (tha'un) itu adalah adzab yang Allah kirim kepada siapa yang Dia kehendaki, dan Allah jadikan sebagai rahmat bagi orang-orang beriman. Tidaklah seseorang yang ketika terjadi wabah (tha'un) *dia tinggal di rumahnya, bersabar dan berharap pahala (di sisi Allah)* dia yakin bahwasannya tidak akan menimpanya kecuali apa yang ditetapkan Allah untuknya, maka dia akan mendapatkan seperti pahala syahid".

📚 إسناده صحيح على شرط البخاري • أخرجه البخاري (٣٤٧٤)، والنسائي في «السنن الكبرى» (٧٥٢٧)، وأحمد (٢٦١٣٩) واللفظ له.

Sanadnya shahih sesuai dengan syarat Al-Bukhari. Dikeluarkan oleh Al-Bukhari (3474), An-Nasa'i dalam As-Sunan Al-Kubra (7527), Ahmad (26139) dan lafadz ini adalah lafadz riwayat Ahmad. 

📗🖌 قال ابن حجر رحمه الله : *"اقتضى منطوقه أن من اتصف بالصفات المذكورة يحصل له أجر الشهيد وإن لم يمت ".*
📚 [فتح الباري (194/10)] 📚

Ibnu Hajar rahimahullah berkata: konsekuensi manthuq (makna eksplisit) hadits ini adalah, orang yang memiliki sifat yang disebut pada hadits tersebut akan mendapatkan pahala syahid walaupun tidak meninggal dunia. (Fathul Bari: 10:194).

Dialihbahasakan oleh: Fuad Hamzah Baraba

Fatwa presiden terkait korona

Sejarah wahabi

http://www.muslimoderat.net/2017/03/sejarah-kelam-berdirinya-salafi-wahabi-dan-saudi.html?m=1


*Sejarah Kelam Berdirinya Salafi Wahabi dan Arab Saudi*

Nama Aliran Wahabi ini diambil dari nama pendiri-nya, Muhammad bin Abdul Wahab (lahir di Najed tahun 1111 H/1699 M). Asal mulanya dia adalah seorang pedagang yang sering berpindah dari satu negara ke negara lain dan diantara negara yang pernah disinggahi adalah Baghdad, Iran, India dan Syam. Kemudian pada tahun 1125 H/1713 M, dia terpengaruh oleh seorang orientalis Inggris bernama Mr. Hempher yang bekerja sebagai mata-mata Inggris di Timur Tengah. Sejak itulah dia menjadi alat bagi Inggris untuk menyebarkan ajaran barunya. Inggris memang telah berhasil mendirikan sekte-sekte bahkan agama baru di tengah umat Islam seperti Ahmadiyah dan Baha‘i. Bahkan Muhammad bin Abdul Wahab ini juga termasuk dalam target program kerja kaum kolonial dengan alirannya Wahabi.

Mulanya Muhammad bin Abdul Wahab hidup di lingkungan Sunni pengikut madzhab Hanbali, bahkan ayah-nya Syaikh Abdul Wahab adalah seorang sunni yang baik, begitu pula guru-gurunya. Namun sejak semula ayah dan guru-gurunya mempunyai firasat yang kurang baik tentang dia, bahwa dia akan sesat dan menyebarkan kesesatan. Bahkan mereka menyuruh orang-orang untuk berhati-hati terhadapnya. Ternyata tidak berselang lama firasat itu benar. Setelah hal itu terbukti ayahnya pun menentang dan memberi peringatan khusus padanya. Bahkan kakak kandungnya, Sulaiman bin Abdul Wahab, ulama besar dari madzhab Hanbali, menulis buku bantahan kepadanya dengan judul As-Sawa‟iqul Ilahiyah Fir Raddi Alal Wahabiyah. Tidak ketinggalan pula salah satu gurunya di Madinah, Syekh Muhammad bin Sulaiman AI-Kurdi as-Syafi‘i, menulis surat berisi nasehat:

Wahai Ibn Abdil Wahab, aku menasehatimu karena Allah, tahanlah lisanmu dari mengkafirkan kaum muslimin, jika kau dengar seseorang meyakini bahwa orang yang ditawassuli bisa memberi manfaat tanpa kehendak Allah, maka ajarilah dia kebenaran dan terang-kan dalilnya bahwa selain Allah tidak ada yang bisa memberi manfaat maupun madharrat, kalau dia menentang bolehlah dia kau anggap kafir, tapi tidak mungkin kau mengkafirkan As-Sawadul A‘zham (kelompok mayoritas) diantara kaum muslimin, karena engkau menjauh dari kelompok terbesar, orang yang menjauh dari kelompok terbesar lebih dekat dengan kekafiran, sebab dia tidak mengikuti jalan muslimin.

Salah satu dari ajaran yang (diyakini oleh Muhammad bin Abdul Wahab, adalah mengkufurkan kaum muslim sunni yang mengamalkan tawassul, ziarah kubur, maulid nabi, dan lain-lain. Berbagai dalil akurat yang disampaikan ahlussunnah wal jama‘ah berkaitan dengan tawassul, ziarah kubur serta maulid, ditolak tanpa alasan yang dapat diterima. Bahkan lebih dari itu, justru berbalik meng-kafirkan kaum muslimin sejak 600 tahun sebelumnya, termasuk guru-gurunya sendiri.

Pada satu kesempatan seseorang bertanya pada Muhammad bin Abdul Wahab, ―Berapa banyak Allah SWT membebaskan orang dari neraka pada bulan Ramadhan?‖ Dengan segera dia menjawab, ―Setiap malam Allah SWT membebaskan 100 ribu orang, dan di akhir malam Ramadhan Allah SWT membebaskan sebanyak hitungan orang yang telah dibebaskan dari awal sampai akhir Ramadhan‖ Lelaki itu bertanya lagi ―Kalau begitu pengikutmu tidak mencapai satu persen pun dari jumlah tersebut, lalu siapakah kaum muslimin yang dibebaskan Allah SWT tersebut? Dari manakah jumlah sebanyak itu? Sedangkan engkau membatasi bahwa hanya pengikutmu saja yang muslim.‖ Mendengar jawaban itu Ibn Abdil Wahab pun terdiam seribu bahasa. Sekalipun demikian Muhammad bin Abdul Wahab tidak menggubris nasehat ayahnya dan guru-gurunya itu.

Dengan berdalihkan pemurnian ajaran Islam, dia terus menyebarkan ajarannya di sekitar wilayah Najed. Orang-orang yang pengetahuan agamanya minim banyak yang terpengaruh. Termasuk diantara pengikutnya adalah penguasa Dar‘iyah, Muhammad bin Saud (meninggal tahun 1178 H/1765 M) pendiri dinasti Saudi, yang di-kemudian hari menjadi mertuanya. Dia mendukung secara penuh dan memanfaatkannya untuk memperluas wilayah kekuasaannya. Ibn Saud sendiri sangat patuh pada perintah Muhammad bin Abdul Wahab. Jika dia menyuruh untuk membunuh atau merampas harta seseorang dia segera melaksanakannya dengan keyakinan bahwa kaum muslimin telah kafir dan syirik selama 600 tahun lebih, dan membunuh orang musyrik dijamin surga.

Sejak semula Muhammad bin Abdul Wahab sangat gemar mempelajari sejarah nabi-nabi palsu, seperti Musailamah Al-Kadzdzab, Aswad Al-Ansiy, Tulaihah Al-Asadiy dan lain-lain. Agaknya dia punya keinginan mengaku nabi, ini tampak sekali ketika ia menyebut para pengikut dari daerahnya dengan julukan Al-Anshar, sedangkan pengikutnya dari luar daerah dijuluki Al-Muhajirin. Kalau seseorang ingin menjadi pengikutnya, dia harus mengucapkan dua syahadat di hadapannya kemudian harus mengakui bahwa sebelum masuk Wahabi dirinya adalah musyrik, begitu pula kedua orang tuanya. Dia juga diharuskan mengakui bahwa para ulama besar sebelumnya telah mati kafir. Kalau mau mengakui hal tersebut dia diterima menjadi pengikutnya, kalau tidak dia pun langsung dibunuh. Muhammad bin Abdul Wahab juga sering merendahkan Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dengan dalih pemurnian akidah, dia juga membiarkan para pengikutnya melecehkan Nabi di hadapannya, sampai-sampai seorang pengikutnya berkata: ―Tongkatku ini masih lebih baik dari Muhammad, karena tongkat-ku masih bisa digunakan membunuh ular, sedangkan Muhammad telah mati dan tidak tersisa manfaatnya sama sekali. Muhammad bin Abdul Wahab di hadapan pengikutnya tak ubahnya seperti Nabi di hadapan umatnya. Pengikutnya semakin banyak dan wilayah kekuasaan semakin luas. Keduanya bekerja sama untuk memberantas tradisi yang dianggapnya keliru dalam masyarakat Arab, seperti tawassul, ziarah kubur, peringatan Maulid dan sebagainya. Tak mengherankan bila para pengikut Muhammad bin Abdul Wahab lantas menyerang makam-makam yang mulia. Bahkan, pada 1802, mereka menyerang Karbala-Irak, tempat dikebumi-kan jasad cucu Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, Husein bin Ali bin Abi Thalib. Karena makam tersebut dianggap tempat munkar yang berpotensi syirik kepada Allah SWT. Dua tahun kemudian, mereka me-nyerang Madinah, menghancurkan kubah yang ada di atas kuburan, menjarah hiasan-hiasan yang ada di Hujrah Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam.

Keberhasilan menaklukkan Madinah berlanjut. Mereka masuk ke Mekkah pada 1806, dan merusak kiswah, kain penutup Ka‘bah yang terbuat dari sutra. Kemudian merobohkan puluhan kubah di Ma‘la, termasuk kubah tempat kelahiran Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, tempat kelahiran Sayyidina Abu Bakar RAdan Sayyidina Ali RA, juga kubah Sayyidatuna Khadijah RA, masjid Abdullah bin Abbas. Mereka terus menghancurkan masjid-masjid dan tempat-tempat kaum solihin sambil bersorak-sorai, menyanyi dan diiringi tabuhan kendang. Mereka juga mencaci-maki ahli kubur bahkan sebagian mereka kencing di kubur kaum solihin tersebut. Gerakan kaum Wahabi ini membuat Sultan Mahmud II, penguasa Kerajaan Usmani, Istanbul-Turki, murka. Dikirimlah prajuritnya yang bermarkas di Mesir, di bawah pimpinan Muhammad Ali, untuk melumpuhkannya. Pada 1813, Madinah dan Mekkah bisa direbut kembali. Gerakan Wahabi surut. Tapi, pada awal abad ke-20, Abdul Aziz bin Sa‘ud bangkit kembali mengusung paham Wahabi. Tahun 1924, ia berhasil menduduki Mekkah, lalu ke Madinah dan Jeddah, memanfaatkan kelemahan Turki akibat kekalah-annya dalam Perang Dunia I. Sejak itu, hingga kini, paham Wahabi mengendalikan pemerintahan di Arab Saudi. Dewasa ini pengaruh gerakan Wahabi bersifat global. Riyadh mengeluarkan jutaan dolar AS setiap tahun untuk menyebarkan ideologi Wahabi. Sejak hadirnya Wahabi, dunia Islam tidak pernah tenang penuh dengan pergolak-an pemikiran, sebab kelompok ekstrem itu selalu meng-halau pemikiran dan pemahaman faham Sunni-Syafi‘i yang sudah mapan.

Kekejaman dan kejahilan Wahabi lainnya adalah me-runtuhkan kubah-kubah di atas makam sahabat-sahabat Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam yang berada di Ma‘la (Mekkah), di Baqi‘ dan Uhud (Madinah) semuanya diruntuhkan dan diratakan dengan tanah dengan meng-gunakan dinamit penghancur. Demikian juga kubah di atas tanah Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dilahirkan, yaitu di Suq al Leil diratakan dengan tanah dengan meng-gunakan dinamit dan dijadikan tempat parkir onta, namun karena gencarnya desakan kaum Muslimin International maka dibangun perpustakaan. Kaum Wahabi benar-benar tidak pernah menghargai peninggalan sejarah dan meng-hormati nilai-nilai luhur Islam. Semula AI-Qubbatul Khadra (kubah hijau) tempat Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dimakamkan juga akan dihancurkan dan diratakan dengan tanah tapi karena ancaman International maka orang-orang wahabi itu mengurungkan niatnya. Begitu pula seluruh rangkaian yang menjadi manasik haji akan dimodifikasi termasuk maqom Ibrahim akan digeser tapi karena banyak yang menentangnya maka diurungkan.

Pengembangan kota suci Makkah dan Madinah akhir-akhir ini tidak mempedulikan situs-situs sejarah Islam. Makin habis saja bangunan yang menjadi saksi sejarah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dan sahabatnya. Bangunan itu dibongkar karena khawatir dijadikan tempat keramat. Bahkan sekarang, tempat kelahiran Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam terancam akan dibongkar untuk perluasan tempat parkir. Sebelumnya, rumah Rasulullah pun sudah lebih dulu digusur. Padahal, di-situlah Rasulullah berulang-ulang menerima wahyu. Di tempat itu juga putra-putrinya dilahirkan serta Khadijah meninggal.

Islam dengan tafsiran kaku yang dipraktikkan Waha-bisme paling punya andil dalam pemusnahan ini. Kaum Wahabi memandang situs-situs sejarah itu bisa mengarah kepada pemujaan berhala baru. Pada bulan Juli yang lalu, Sami Angawi, pakar arsitektur Islam di wilayah tersebut mengatakan bahwa beberapa bangunan dari era Islam kuno terancam musnah. Pada lokasi bangunan berumur 1.400 tahun Itu akan dibangun jalan menuju menara tinggi yang menjadi tujuan ziarah jamaah haji dan umrah.

"Saat ini kita tengah menyaksikan saat-saat terakhir sejarah Makkah. Bagian bersejarahnya akan segera dirata-kan untuk dibangun tempat parkir," katanya kepada Reuters. Angawi menyebut setidaknya 300 bangunan bersejarah di Makkah dan Madinah dimusnahkan selama 50 tahun terakhir. Bahkan sebagian besar bangunan ber-sejarah Islam telah punah semenjak Arab Saudi berdiri pada 1932. Hal tersebut berhubungan dengan maklumat yang dikeluarkan Dewan Keagamaan Senior Kerajaan pada tahun 1994. Dalam maklumat tersebut tertulis, "Pelestarian bangunan bangunan bersejarah berpotensi menggiring umat Muslim pada penyembahan berhala."

Nasib situs bersejarah Islam di Arab Saudi memang sangat menyedihkan. Mereka banyak menghancurkan peninggalan-peninggalan Islam sejak masa Ar-Rasul Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Semua jejak jerih payah Rasulullah itu habis oleh modernisasi ala Wahabi. Sebaliknya mereka malah mendatangkan para arkeolog (ahli purbakala) dari seluruh dunia dengan biaya ratusan juta dollar untuk menggali peninggalan-peninggalan se-belum Islam baik yang dari kaum jahiliyah maupun sebelumnya dengan dalih obyek wisata. Kemudian dengan bangga mereka menunjukkan bahwa zaman pra Islam telah menunjukkan kemajuan yang luar biasa, tidak di-ragukan lagi ini merupakan pelenyapan bukti sejarah yang akan menimbulkan suatu keraguan di kemudian hari.

Gerakan wahabi dimotori oleh para juru dakwah yang radikal dan ekstrim, mereka menebarkan kebencian permusuhan dan didukung oleh keuangan yang cukup besar. Mereka gemar menuduh golongan Islam yang tak sejalan dengan mereka dengan tuduhan kafir, syirik dan ahli bid‟ah. Itulah ucapan yang selalu didengungkan di setiap kesempatan, mereka tak pernah mengakui jasa para ulama Islam manapun kecuali kelompok mereka sendiri. Di negeri kita ini mereka menaruh dendam dan kebencian mendalam kepada para Wali Songo yang menyebarkan dan meng-Islam-kan penduduk negeri ini.

Mereka mengatakan ajaran para wali itu masih kecampuran kemusyrikan Hindu dan Budha, padahal para Wali itu telah meng-Islam-kan 90 % penduduk negeri ini. Mampukah wahabi-wahabi itu meng-Islam-kan yang 10% sisanya? Mempertahankan yang 90 % dari terkaman orang kafir saja tak bakal mampu, apalagi mau menambah 10 % sisanya. Justru mereka dengan mudahnya mengkafirkan orang-orang yang dengan nyata bertauhid kepada Allah SWT. Jika bukan karena Rahmat Allah SWT yang mentakdirkan para Wali Songo untuk berdakwah ke negeri kita ini, tentu orang-orang yang menjadi corong kaum wahabi itu masih berada dalam kepercayaan animisme, penyembah berhala atau masih kafir. (Naudzu billah min dzalik).

Oleh karena itu janganlah dipercaya kalau mereka mengaku-aku sebagai faham yang hanya berpegang teguh pada Al-Qur‘an dan As-Sunnah. Mereka berdalih meng-ikuti keteladanan kaum salaf apalagi mengaku sebagai golongan yang selamat dan sebagainya, itu semua omong kosong belaka. Mereka telah menorehkan catatan hitam dalam sejarah dengan membantai ribuan orang di Makkah dan Madinah serta daerah lain di wilayah Hijaz (yang sekarang dinamakan Saudi). Tidakkah anda ketahui bahwa yang terbantai waktu itu terdiri dari para ulama yang sholeh dan alim, bahkan anak-anak serta balita pun mereka bantai di hadapan ibunya. Tragedi berdarah ini terjadi sekitar tahun 1805. Semua itu mereka lakukan dengan dalih memberantas bid‟ah, padahal bukankah nama Saudi sendiri adalah suatu nama bid‟ah‖ Karena nama negeri Rasulullah SAW diganti dengan nama satu keluarga kerajaan pendukung faham wahabi yaitu As-Sa‘ud.

Sungguh Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam telah memberitakan akan datangnya Faham Wahabi ini dalam beberapa hadits, ini merupakan tanda kenabian beliau Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dalam memberitakan sesuatu yang belum terjadi. Seluruh hadits-hadits ini adalah shahih, sebagaimana terdapat dalam kitab shahih Bukhari dan Muslim dan lainnya. Diantaranya: "Fitnah itu datangnya dari sana, fitnah itu datangnya dari arah sana," sambil menunjuk ke arah timur (Najed). (HR. Muslim dalam Kitabul Fitan).

“Akan keluar dari arah timur segolongan manusia yang membaca Al-Qur‟an namun tidak sampai melewati kerongkongan mereka (tidak sampai ke hati), mereka keluar dari agama seperti anak panah keluar dari busurnya, mereka tidak akan bisa kembali seperti anak panah yang tak akan kembali ketempatnya, tanda-tanda mereka ialah bercukur (Gundul).” (HR Bukhori no 7123, Juz 6 hal 20748). Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ahmad, Ibnu Majah, Abu Daud, dan Ibnu Hibban. (Ahmad Zaini Dahlan, 1305: 57)

Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam pernah berdo‘a: "Ya Allah, berikan kami berkah dalam negara Syam dan Yaman," Para sahabat berkata: Dan dari Najed, wahai Rasulullah, beliau berdo‘a: "Ya Allah, berikan kami berkah dalam negara Syam dan Yaman," dan pada yang ketiga kalinya beliau Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda: "Di sana (Najed) akan ada keguncangan fitnah serta di sana pula akan muncul tanduk syaitan." Dalam riwayat lain dua tanduk syaitan.

Dalam hadits-hadits tersebut dijelaskan, bahwa tanda-tanda mereka adalah bercukur (gundul). Dan ini adalah merupakan nash yang jelas ditujukan kepada para penganut Muhammad bin Abdul Wahab, karena dia telah memerintahkan setiap pengikutnya mencukur rambut kepalanya hingga mereka yang mengikuti tidak diper-bolehkan berpaling dari majlisnya sebelum bercukur gundul. Hal seperti ini tidak pernah terjadi pada aliran-aliran sesat lain sebelumnya. Seperti yang telah dikatakan oleh Sayyid Abdurrahman Al-Ahdal: "Tidak perlu kita menulis buku untuk menolak Muhammad bin Abdul Wahab, karena sudah cukup ditolak oleh hadits-hadits Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam itu sendiri yang telah menegaskan bahwa tanda-tanda mereka adalah bercukur (gundul), karena ahli bid‟ah sebelumnya tidak pernah berbuat demikian." Al-Allamah Sayyid AIwi bin Ahmad bin Hasan bin Al-Quthub Abdullah AI-Haddad menyebutkan dalam kitabnya Jala‟uzh Zholam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abbas bin Abdul Muthalib dari Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam: "Akan keluar di abad kedua belas (setelah hijrah) nanti di lembah Bany Hanifah seorang lelaki, yang tingkahnya bagaikan sapi jantan (sombong), lidahnya selalu menjilat bibirnya yang besar, pada zaman itu banyak terjadi kekacauan, mereka menghalalkan harta kaum muslimin, diambil untuk berdagang dan menghalalkan darah kaum muslimin" AI-Hadits.

Bany Hanifah adalah kaum nabi palsu Musailamah Al-Kadzdzab dan Muhammad bin Saud. Kemudian dalam kitab tersebut Sayyid AIwi menyebutkan bahwa orang yang tertipu ini tiada lain ialah Muhammad bin Abdul Wahab. Adapun mengenai sabda Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam yang mengisyaratkan bahwa akan ada ke-guncangan dari arah timur (Najed) dan dua tanduk setan, sebagian, ulama mengatakan bahwa yang dimaksud dengan dua tanduk setan itu tiada lain adalah Musailamah Al-Kadzdzab dan Muhammad Ibn Abdil Wahab. Pendiri ajaran Wahabiyah ini meninggal tahun 1206 H / 1792 M. (Dr. Abdullah Mohammad Sindi : 1998 : 21)


Pembantaian

Periode-periode itu adalah masa-masa berdarah koalisi Saudi-Wahabi, dalam kitabTarikh Najd dituturkan penyerangan dan pembunuhan dimulai terhadap pemimpin-pemimpin di daerah-daerah sekitar Dir’iyah, mulai dari penyerbuan ke Tsarmada dan membunuh 70 orang yang disebut sebagai “orang murtad” (menentang kelompok Wahabi), penyerangan ke Riyadh, Harimla, dan lain-lainnya. Menurut penuturan Ibn Bisyr saat Abd Aziz menaklulan Riyadh pada Musim Panas tahun 1187 H, penduduknya laki-laki, perempuan dan anak-anak lari ke bukit-bukit, banyak dari mereka yang mati kelaparan dan kehausan, Abd Aziz pun meneruskan penaklukan, memerangi dan mengambil rampasan perang. (Unwanul Majd. Vol I, h. 120) Ibn Ghannam menceritakan Saud, anak Abd Aziz saat menaklukkan Al-Qathif dan Al-Hasa tahun 1206-1207 H membantai 1500 orang. (Tarikh Najd, h. 182-183). Dalam pertempuran Raqiqah tahun 1210 H, Saud membunuh 300 orang dari sebuah dusun agar menjadi pelajaran bagi dusun-dusun yang lain agar tidak menentang pasukannya. (Unwanul Majd, h. 216)

Penghancuran dan Pembantaian di Karbala

Pengrusakan terbesar Dinasti Saudi-Wahabi adalah Karbala tahun 1216 H/1801 M, seperti yang dicatat oleh Ibn Bisyr, Saud yang memimpin pasukan, membunuh warga Karbala baik di rumah-rumah dan di pasar-pasar, menghacurkan makam Sayyidina Husain, dan merampas barang-barang berharga dari makam itu, permata, batu-batu mulia, mereka juga merampas semua barang dari Karbala, senjata, pakaian, karpet, perak, emas. Mereka juga membantai tidak kurang dari 2000 orang. Setelah menunaikan misinya, Saud pergi dari Karbala dengan membawa rampasan perang, ia memperoleh 1/5 bagian dan sisanya dibagikan kepada “orang Islam” yakni pasukannya bagi pasukan infantri satu bagian, sementara pasukan kavaleri mendapat dua bagian.(Unwanul Majd, h. 257-258)

Memperlakukan Ulama Makkah seperti Ahlul Kitab

Saat Saud akan menduduki kota Makkah, ia mengirimkan surat, yang nadanya penerimanya adalah orang non-muslim, seperti halnya gaya bahasa Rasulullah Saw terdahulu mengirimkan surat pada Ahlul Kitab—assalamu ala man ittaba’al hudabukan assalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh, kemudian ia mengutip ayat 64 surat Ali Imran, Ya Ahlal Kitab—hai orang Ahlul Kitab. (Unwanul Majd, h. 261). Jadi ia memahami bahwa ulama-ulama Makkah dan para pembesarnya saat itu adalah orang Kristen, Yahudi, atau agama lain!

Ketika ia berhasil menduduki Muharram 1218, setelah pertempuran yang berdarah, meminta penduduk berkumpul di Masjidil Haram, ia pun berkhutbah dengan meminta baiat dari mereka secara paksa dan menegaskan ideologi baru, yakni tauhid Wahabi yang harus mereka patuhi, menjauhi tradisi syirik dan mengutip hadits Nabi yang disebutkan dalam kitab Tauhid Muhammad bin Abd Wahhab, menjelang Kiamat akan ada umat Islam yang mengikuti kaum musyrik dan menyembah berhala.

Setelah itu, Pasukan Saudi-Wahabi menghancurkan monumen kelahiran Nabi, Abu Bakar, Imam Ali, dan Sayyidah Khadijah yang mereka tuduh sebagai “berhala-berhala yang disembah selain Allah” setelah itu Saud mengirimkan surat ke Sultan Turki bahwa ia telah menghancurkan agama berhala.

Saud digantikan Abdullah bin Saud, yang menjadi raja terakhir Dinasti Saudi Pertama, setelah ibu kotanya Dir’iyah dihancurkan pasukan Dinasti Turki Utsmani di bawah komando Ibrahim Pasha, anak gubernur Mesir, Muhammad Ali Pasha pada tahun 1818.

Saling Bunuh Dinasti Saudi Kedua

Pada Periode Dinasti Saudi Kedua, tidak ada hal yang penting diceritakan, karena periode ini mencatat perebutan kekuasaan dan pembunuhan internal dalam Dinasti Saudi. Dinasti Kedua yang didirikan oleh Turki Al Saud, dibunuh oleh keponakannya sendiri, Musyari, dan nantinya anak Turki, Faisal, membunuh Musyari untuk merebut kekuasaan ayahnya. Pada periode ini, Gerakan Wahabi yang diwakili Keluarga Al-Syaikh (Keturunan Syaikh Muhammad bin Abd Wahhab) bersikap pragmatis, siapapun yang menjadi pemimpin, meskipun dengan cara memberontak dan membunuh pemimpin sebelumnya, mereka akan berbaiat. Wallahu A’lam

Sumber : http://www.muslimoderat.net/2017/03/sejarah-kelam-berdirinya-salafi-wahabi-dan-saudi.html#ixzz6B0oU8Fw1

Doa ijazah untuk penyakit korona

*IJAZAH TOLAK BALAK (CORONA)*
_*DARI HABAIB & MASYAYIKH*_

*1. HADLRATUS SYAIKH KH. HASYIM ASY'ARI JOMBANG*
Baca:
*لِيْ خمسةٌ أُطفيْ بها # حرَّ الوباءِ الحاطمة*
*المُصطفىٰ والمُرتضىٰ#وابناهما والفاطمة*

*2. KH. HASAN SAIFOURRIDZAL GENGGONG.*
Baca: 
*اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً تَدْفَعُ بِهَا عَنَّا الطَّعْنَ وَالطَّاعُوْنَ يَامَنْ أَمْرُهُ إذَا أرَادَ شَيْئًا أنْ يَقُوْلَ لَهُ كُنْ فَيَكُوْنُ وَعَلَى أٰلِهٖ وَصَحْبِهٖ وَسَلِّمْ*

*3. KH. MAIMUN ZUBAIR SARANG REMBANG*
Baca:
*ونُنَزِّلُ من القُرآنِ مَا هُوَ شِفآءٌ وَّرَحْمَةٌ لِلمُؤْمِنِيْنَ، ولا يَزِدُ الظَّالِمِيْنَ إلا خَسَارًا*
_Kaifiyah:_ sebelum tidur 11x lalu ditiupkan ke telapak tangan & diusapkan keseluruh tubuh.

*4. HABIB LUTHFI BIN YAHYA*
Baca ; 
*بِسْمِ اللهِ الَّرحْمنِ الّرحِيْمِ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِ سَيِّدنَا مُحَمَّدٍ بِعَدَدِ كُلِّ دَآءٍ وَدَوَآءٍ*
_Kaifiyah:_ Ba'da Maktubah 11x

*5. HABIB TAUFIQ PASURUAN*
Baca ; 
*اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ طِبِّ الْقُلُوْبِ وَدَوَائِهَا، وَعَافِيَةِ الْاَبْدَانِ وَشِفَائِهَا، وَنُوْرِ الْاَبْصَارِ وَضِيَائِهَا، وَعَلٰى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّم*
_Kaifiyah:_  Ba'da Maktubah 11x

*6. AL-HABIB 'ABDULLAH BIN MUHAMMAD BAHARUN*
Baca:
*وبالحَقِّ أنْزَلْنَاهُ وَبالحَقِّ نَزَلَ*
_Kaifiyah:_  Subuh + Maghrib 70x

*7. KH. SAID AQIL  SIRODJ (KETUA PBNU)*
Baca ;
*أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ*
*بِسْمِ اللهِ الَّذِيْ لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْئٌ فىِ اْلاَرْضِ وَلاَ فىِ السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيْعِ اْلعَلِيْمِ*
_Kaifiyah:_ Ba'da  Shubuh + Ashar 3/7x

*8. KH. CHUSEN ILYAS MOJOKERTO*
Baca :
*يارحمٰنُ يارحيمُ ياقدّوسُ ياسلامُ ياعزيزُ ياعليمُ ياكريمُ*
*لاحولَ ولاقوةَ إلا باللهِ العليِّ العظيمِ*
_Kaifiyah;_ Malam hari sebelum tidur 7x

*9. KH. NURUL HUDA DJAZULI PLOSO KEDIRI*
Baca:
*-إستغفار*
_Kaifiyah:_ Ba'da Maktubah 25x
Kmudian membaca Do'a:
*- حَصَّنتُكم بالحيِّ القيُّومِ الذي لا يموتُ أبداً ودفَعْتُ عنكمُ السُّوءَ بألفِ ألفِ لاحول ولاقوة إلا باللهِ العليِّ العظيمِ*

*10. KH. ADIB ROFIUDDIN IZZA BUNTET*
Baca:
*- سلامٌ قولاً من ربِّ الرّحيم*
*- صلّى اللّٰهُ على محمد*
*- أستغفر اللهَ العظيم*
_Kaifiyah:_ Ba'da Maktubah 41x

*Monggo dipilih,,,*
 _*Untuk Diamalkan!!*_ 

Amalan-Amalan ini  _dari Grup-group NU dan Alumni-Alumni Pondok-Pesantren dan Dipersilahkan oleh Habaib & Para Kyai Tersebut untuk diamalkan._

Rabu, 05 Februari 2020

Wasilah

الٰى حَضْرَةِ النَّبِيِّ الْمُصْطَفٰى رَسُوْلِ اللّٰهِ مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم وَاِلٰى جَمِيْعِ اِخْوَانِهِ مِنَ الْاَنْبِيَاءِ والْمُرْسَلِيْنَ والْمَلَائِكَةِ الْمُقَرَّبِيْنَ، وَاِلٰى اٰلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَاَزْوَاجِهِ وَذُرَّيَّتِهِ وَجَمِيْعِ اَهْلِ بَيْتِهِ الْكِرَامِ لَهُمُ الْفَاتِحَة 

وَاِلٰى حَضَرَاتِ جَمِيْعِ الْاَوْلِيَاءِ والشُّهَدَاءِ وَالصَّالِِحِيْنَ وَالْعُلَمَاءِ الْعَامِلِيْنَ وَالْمُصَنِّفِيْنَ وَالْمُفَسِّرِيْنَ وَالْمُحَدِّثِيْنَ وَالْفُقَهَاءِ وَجَمِيْعِ اَهْلِ الصّوْفِيّةِ 
خُصُوْصًا سَيِّدِي الشَّيْخِ عَبْدِ الْقَادِرِ الْجِيْلَاني 
وَسَيِّدِي الشَّيْخِ ابِِيْ حَامِدٍ الْغَزَالِي 
وَسَيِّدِي الشَّيْخِ مُحَمَّدٍ بَهَاءِ الدِّيْنِ النَّقْشَبَنْدِي 
وَسَيِّدِي الشَّيْخِ الْحَبِيْب عَبْدِ الله ابْنِ عَلَوِي الْحَدَّاد رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ لَهُمُ الْفَاتِحَة 

وَاِلٰى حَضَرَاتِ جَمِيْعِ الْاَوْلِيَاءِ في جاوا وَمادورا وَجَمِيْعِ سونان والي صاغا وَجَمِيْعِ الْاَوْلِيَاءِ وَالْعُلَمَاءِ الْمَقْبُوْرِيْن في هذه الدَّائِرَة (sawo dan Karangdiyeng)  رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ لَهُمُ الْفَاتِحَة.. 

وَاِلٰى حضرة
مباه كياهي جايادي سيراهان 
مباه كياهي احمد نعيم فوروارجا 
مباه كياهي بحري مشهود ماجاساري 
مباه كياهي يهدي مطلب ماجاكنغ 
مباه كياهي احياة حالمي ماجاكرطا 
كياهي اكوس علي محمد سورابايا 
مباه كياهي محفوظ صِدِّيق 

وَاِلٰى حضرة مَشَايِخِنِا وَاَسَاتِيذِنَا وَشَيْخِ مَشَايِخِنِا وَاِلٰى سَنَدِ الْقُرْآنِ مِنْ شَيْخِنَا ( alquran guru)  اِلٰى رَسُوْلِ اللّٰهِ مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم لَهُمُ الْفَاتِحَة 

وَاِلٰى جَمِيْعِ اَهْلِ الْقُبُوْرِ من المسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات اَيْنَمَا كَانُوْا اِلٰى مَنْ قَصَدَ في هذا المجلس مِنْ صاحب الحاجة(ahli qubur) لَهُمُ الْفَاتِحَة 






Kamis, 23 Januari 2020

Surat assoffat ayat 4

رَّبُّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَمَا بَيۡنَهُمَا وَرَبُّ ٱلۡمَشَٰرِقِ

(Bahasa Indonesia)
Tuhan langit dan bumi dan apa yang berada di antara keduanya dan Tuhan tempat-tempat terbitnya matahari.

(Arabic Ibn Kathir Tafseer)
تَفْسِيرُ سُورَةِ الصَّافَّاتِ
[وَهِيَ]  مَكِّيَّةٌ.
قَالَ النَّسَائِيُّ: أَخْبَرَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ مَسْعُودٍ، حَدَّثَنَا خَالِدُ -يَعْنِي ابْنَ الْحَارِثِ-عَنِ ابْنِ أَبِي ذِئْبٍ قَالَ: أخبرني بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَأْمُرُنَا  بِالتَّخْفِيفِ، وَيَؤُمُّنَا بِالصَّافَّاتِ. تَفَرَّدَ بِهِ النَّسَائِيُّ  .
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
* * *
قَالَ سُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ، عَنِ الْأَعْمَشِ، عَنْ أَبِي الضُّحَى، عَنْ مَسْرُوقٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ: ﴿وَالصَّافَّاتِ صَفًّا﴾ وَهِيَ: الْمَلَائِكَةُ، ﴿فَالزَّاجِرَاتِ زَجْرًا﴾ وَهِيَ: الْمَلَائِكَةُ، ﴿فَالتَّالِيَاتِ ذِكْرًا﴾ هِيَ: الْمَلَائِكَةُ.
وَكَذَا قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ، وَمَسْرُوقٌ، وَسَعِيدُ بْنُ جُبَيْر، وعِكْرِمة، وَمُجَاهِدٌ، والسُّدِّيّ، وَقَتَادَةُ، وَالرَّبِيعُ بْنُ أَنَسٍ.
قَالَ قَتَادَةُ: الْمَلَائِكَةُ صُفُوفٌ فِي السَّمَاءِ.
وَقَالَ  مُسْلِمٌ: حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَة، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ فُضَيْل، عَنْ أَبِي مَالِكٍ الْأَشْجَعِيِّ، عَنْ رِبْعِيّ، عَنْ حُذَيْفَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ "فُضِّلنا عَلَى النَّاسِ بِثَلَاثٍ: جُعلت صُفُوفُنَا كَصُفُوفِ الْمَلَائِكَةِ، وَجُعِلَتْ لَنَا الْأَرْضُ كُلُّهَا مَسْجِدًا  وجُعلت لَنَا تُربتها  طَهُورًا إِذَا لَمْ نَجِدِ الْمَاءَ"  .
وَقَدْ رَوَى مُسْلِمٌ أَيْضًا، وَأَبُو دَاوُدَ، وَالنَّسَائِيُّ، وَابْنُ مَاجَهْ مِنْ حَدِيثِ الْأَعْمَشِ، عَنِ المُسَيَّب بْنِ رَافِعٍ، عَنْ تَمِيمِ بْنِ طَرَفة، عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَة قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وسلم "ألا تَصُفّون كَمَا تَصُفُّ الْمَلَائِكَةُ عِنْدَ رَبِّهِمْ؟ " قُلْنَا: وَكَيْفَ تَصُفُّ الْمَلَائِكَةُ عِنْدَ رَبِّهِمْ؟ قَالَ ﷺ: "يُتِمون الصُّفُوفَ الْمُتَقَدِّمَةَ ويَتَراصون فِي الصَّفِّ"  .
وَقَالَ السُّدِّيُّ وَغَيْرُهُ: مَعْنَى قَوْلِهِ ﴿فَالزَّاجِرَاتِ زَجْرًا﴾ أَنَّهَا تَزْجُرُ السَّحَابَ.
وَقَالَ الرَّبِيعُ بْنُ أَنَسٍ: ﴿فَالزَّاجِرَاتِ زَجْرًا﴾ : مَا زَجَرَ اللَّهُ عَنْهُ فِي الْقُرْآنِ. وَكَذَا رَوَى مَالِكٌ، عَنْ زيد بن أسلم.
﴿فَالتَّالِيَاتِ ذِكْرًا﴾ قَالَ السُّدِّيُّ: الْمَلَائِكَةُ يَجِيئُونَ بِالْكِتَابِ، وَالْقُرْآنِ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ إِلَى النَّاسِ. وَهَذِهِ الْآيَةُ كَقَوْلِهِ تَعَالَى: ﴿فَالْمُلْقِيَاتِ ذِكْرًا عُذْرًا أَوْ نُذْرًا﴾ [الْمُرْسَلَاتِ:٥، ٦] .
* * *
وَقَوْلُهُ: ﴿إِنَّ إِلَهَكُمْ لَوَاحِدٌ﴾ هَذَا هُوَ الْمُقْسَمُ عَلَيْهِ، أَنَّهُ تَعَالَى لَا إِلَهَ إلا هو ﴿رَبُّ السَّمَوَاتِ وَالأرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا﴾ أَيْ: مِنَ الْمَخْلُوقَاتِ، ﴿وَرَبُّ الْمَشَارِقِ﴾ أَيْ: هُوَ الْمَالِكُ الْمُتَصَرِّفُ فِي الْخَلْقِ بِتَسْخِيرِهِ بِمَا فِيهِ مِنْ كَوَاكِبَ  ثَوَابِتَ، وَسَيَّارَاتٍ تَبْدُو مِنَ الْمَشْرِقِ، وَتَغْرُبُ مِنَ الْمَغْرِبِ. وَاكْتَفَى بِذِكْرِ الْمَشَارِقِ عَنِ الْمَغَارِبِ لِدَلَالَتِهَا عَلَيْهِ. وَقَدْ صَرَّحَ بِذَلِكَ فِي قَوْلِهِ: ﴿فَلا أُقْسِمُ بِرَبِّ الْمَشَارِقِ وَالْمَغَارِبِ إِنَّا لَقَادِرُونَ﴾ [الْمَعَارِجِ:٤٠] . وَقَالَ فِي الْآيَةِ الْأُخْرَى: ﴿رَبُّ الْمَشْرِقَيْنِ وَرَبُّ الْمَغْرِبَيْنِ﴾ [الرَّحْمَنِ:١٧] يَعْنِي فِي الشِّتَاءِ وَالصَّيْفِ، لِلشَّمْسِ وَالْقَمَرِ.

-Surat Ash-Shaffat, Ayat 5

Surat assoffat ayat 3

فَٱلتَّٰلِيَٰتِ ذِكۡرًا

(Bahasa Indonesia)
demi (rombongan) yang membacakan peringatan,

(Arabic Ibn Kathir Tafseer)
تَفْسِيرُ سُورَةِ الصَّافَّاتِ
[وَهِيَ]  مَكِّيَّةٌ.
قَالَ النَّسَائِيُّ: أَخْبَرَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ مَسْعُودٍ، حَدَّثَنَا خَالِدُ -يَعْنِي ابْنَ الْحَارِثِ-عَنِ ابْنِ أَبِي ذِئْبٍ قَالَ: أخبرني بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَأْمُرُنَا  بِالتَّخْفِيفِ، وَيَؤُمُّنَا بِالصَّافَّاتِ. تَفَرَّدَ بِهِ النَّسَائِيُّ  .
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
* * *
قَالَ سُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ، عَنِ الْأَعْمَشِ، عَنْ أَبِي الضُّحَى، عَنْ مَسْرُوقٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ: ﴿وَالصَّافَّاتِ صَفًّا﴾ وَهِيَ: الْمَلَائِكَةُ، ﴿فَالزَّاجِرَاتِ زَجْرًا﴾ وَهِيَ: الْمَلَائِكَةُ، ﴿فَالتَّالِيَاتِ ذِكْرًا﴾ هِيَ: الْمَلَائِكَةُ.
وَكَذَا قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ، وَمَسْرُوقٌ، وَسَعِيدُ بْنُ جُبَيْر، وعِكْرِمة، وَمُجَاهِدٌ، والسُّدِّيّ، وَقَتَادَةُ، وَالرَّبِيعُ بْنُ أَنَسٍ.
قَالَ قَتَادَةُ: الْمَلَائِكَةُ صُفُوفٌ فِي السَّمَاءِ.
وَقَالَ  مُسْلِمٌ: حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَة، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ فُضَيْل، عَنْ أَبِي مَالِكٍ الْأَشْجَعِيِّ، عَنْ رِبْعِيّ، عَنْ حُذَيْفَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ "فُضِّلنا عَلَى النَّاسِ بِثَلَاثٍ: جُعلت صُفُوفُنَا كَصُفُوفِ الْمَلَائِكَةِ، وَجُعِلَتْ لَنَا الْأَرْضُ كُلُّهَا مَسْجِدًا  وجُعلت لَنَا تُربتها  طَهُورًا إِذَا لَمْ نَجِدِ الْمَاءَ"  .
وَقَدْ رَوَى مُسْلِمٌ أَيْضًا، وَأَبُو دَاوُدَ، وَالنَّسَائِيُّ، وَابْنُ مَاجَهْ مِنْ حَدِيثِ الْأَعْمَشِ، عَنِ المُسَيَّب بْنِ رَافِعٍ، عَنْ تَمِيمِ بْنِ طَرَفة، عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَة قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وسلم "ألا تَصُفّون كَمَا تَصُفُّ الْمَلَائِكَةُ عِنْدَ رَبِّهِمْ؟ " قُلْنَا: وَكَيْفَ تَصُفُّ الْمَلَائِكَةُ عِنْدَ رَبِّهِمْ؟ قَالَ ﷺ: "يُتِمون الصُّفُوفَ الْمُتَقَدِّمَةَ ويَتَراصون فِي الصَّفِّ"  .
وَقَالَ السُّدِّيُّ وَغَيْرُهُ: مَعْنَى قَوْلِهِ ﴿فَالزَّاجِرَاتِ زَجْرًا﴾ أَنَّهَا تَزْجُرُ السَّحَابَ.
وَقَالَ الرَّبِيعُ بْنُ أَنَسٍ: ﴿فَالزَّاجِرَاتِ زَجْرًا﴾ : مَا زَجَرَ اللَّهُ عَنْهُ فِي الْقُرْآنِ. وَكَذَا رَوَى مَالِكٌ، عَنْ زيد بن أسلم.
﴿فَالتَّالِيَاتِ ذِكْرًا﴾ قَالَ السُّدِّيُّ: الْمَلَائِكَةُ يَجِيئُونَ بِالْكِتَابِ، وَالْقُرْآنِ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ إِلَى النَّاسِ. وَهَذِهِ الْآيَةُ كَقَوْلِهِ تَعَالَى: ﴿فَالْمُلْقِيَاتِ ذِكْرًا عُذْرًا أَوْ نُذْرًا﴾ [الْمُرْسَلَاتِ:٥، ٦] .
* * *
وَقَوْلُهُ: ﴿إِنَّ إِلَهَكُمْ لَوَاحِدٌ﴾ هَذَا هُوَ الْمُقْسَمُ عَلَيْهِ، أَنَّهُ تَعَالَى لَا إِلَهَ إلا هو ﴿رَبُّ السَّمَوَاتِ وَالأرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا﴾ أَيْ: مِنَ الْمَخْلُوقَاتِ، ﴿وَرَبُّ الْمَشَارِقِ﴾ أَيْ: هُوَ الْمَالِكُ الْمُتَصَرِّفُ فِي الْخَلْقِ بِتَسْخِيرِهِ بِمَا فِيهِ مِنْ كَوَاكِبَ  ثَوَابِتَ، وَسَيَّارَاتٍ تَبْدُو مِنَ الْمَشْرِقِ، وَتَغْرُبُ مِنَ الْمَغْرِبِ. وَاكْتَفَى بِذِكْرِ الْمَشَارِقِ عَنِ الْمَغَارِبِ لِدَلَالَتِهَا عَلَيْهِ. وَقَدْ صَرَّحَ بِذَلِكَ فِي قَوْلِهِ: ﴿فَلا أُقْسِمُ بِرَبِّ الْمَشَارِقِ وَالْمَغَارِبِ إِنَّا لَقَادِرُونَ﴾ [الْمَعَارِجِ:٤٠] . وَقَالَ فِي الْآيَةِ الْأُخْرَى: ﴿رَبُّ الْمَشْرِقَيْنِ وَرَبُّ الْمَغْرِبَيْنِ﴾ [الرَّحْمَنِ:١٧] يَعْنِي فِي الشِّتَاءِ وَالصَّيْفِ، لِلشَّمْسِ وَالْقَمَرِ.

-Surat Ash-Shaffat, Ayat 3

Surat assoffat ayat 2

فَٱلزَّٰجِرَٰتِ زَجۡرٗا

(Bahasa Indonesia)
demi (rombongan) yang mencegah dengan sungguh-sungguh,

(Arabic Ibn Kathir Tafseer)
تَفْسِيرُ سُورَةِ الصَّافَّاتِ
[وَهِيَ]  مَكِّيَّةٌ.
قَالَ النَّسَائِيُّ: أَخْبَرَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ مَسْعُودٍ، حَدَّثَنَا خَالِدُ -يَعْنِي ابْنَ الْحَارِثِ-عَنِ ابْنِ أَبِي ذِئْبٍ قَالَ: أخبرني بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَأْمُرُنَا  بِالتَّخْفِيفِ، وَيَؤُمُّنَا بِالصَّافَّاتِ. تَفَرَّدَ بِهِ النَّسَائِيُّ  .
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
* * *
قَالَ سُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ، عَنِ الْأَعْمَشِ، عَنْ أَبِي الضُّحَى، عَنْ مَسْرُوقٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ: ﴿وَالصَّافَّاتِ صَفًّا﴾ وَهِيَ: الْمَلَائِكَةُ، ﴿فَالزَّاجِرَاتِ زَجْرًا﴾ وَهِيَ: الْمَلَائِكَةُ، ﴿فَالتَّالِيَاتِ ذِكْرًا﴾ هِيَ: الْمَلَائِكَةُ.
وَكَذَا قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ، وَمَسْرُوقٌ، وَسَعِيدُ بْنُ جُبَيْر، وعِكْرِمة، وَمُجَاهِدٌ، والسُّدِّيّ، وَقَتَادَةُ، وَالرَّبِيعُ بْنُ أَنَسٍ.
قَالَ قَتَادَةُ: الْمَلَائِكَةُ صُفُوفٌ فِي السَّمَاءِ.
وَقَالَ  مُسْلِمٌ: حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَة، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ فُضَيْل، عَنْ أَبِي مَالِكٍ الْأَشْجَعِيِّ، عَنْ رِبْعِيّ، عَنْ حُذَيْفَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ "فُضِّلنا عَلَى النَّاسِ بِثَلَاثٍ: جُعلت صُفُوفُنَا كَصُفُوفِ الْمَلَائِكَةِ، وَجُعِلَتْ لَنَا الْأَرْضُ كُلُّهَا مَسْجِدًا  وجُعلت لَنَا تُربتها  طَهُورًا إِذَا لَمْ نَجِدِ الْمَاءَ"  .
وَقَدْ رَوَى مُسْلِمٌ أَيْضًا، وَأَبُو دَاوُدَ، وَالنَّسَائِيُّ، وَابْنُ مَاجَهْ مِنْ حَدِيثِ الْأَعْمَشِ، عَنِ المُسَيَّب بْنِ رَافِعٍ، عَنْ تَمِيمِ بْنِ طَرَفة، عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَة قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وسلم "ألا تَصُفّون كَمَا تَصُفُّ الْمَلَائِكَةُ عِنْدَ رَبِّهِمْ؟ " قُلْنَا: وَكَيْفَ تَصُفُّ الْمَلَائِكَةُ عِنْدَ رَبِّهِمْ؟ قَالَ ﷺ: "يُتِمون الصُّفُوفَ الْمُتَقَدِّمَةَ ويَتَراصون فِي الصَّفِّ"  .
وَقَالَ السُّدِّيُّ وَغَيْرُهُ: مَعْنَى قَوْلِهِ ﴿فَالزَّاجِرَاتِ زَجْرًا﴾ أَنَّهَا تَزْجُرُ السَّحَابَ.
وَقَالَ الرَّبِيعُ بْنُ أَنَسٍ: ﴿فَالزَّاجِرَاتِ زَجْرًا﴾ : مَا زَجَرَ اللَّهُ عَنْهُ فِي الْقُرْآنِ. وَكَذَا رَوَى مَالِكٌ، عَنْ زيد بن أسلم.
﴿فَالتَّالِيَاتِ ذِكْرًا﴾ قَالَ السُّدِّيُّ: الْمَلَائِكَةُ يَجِيئُونَ بِالْكِتَابِ، وَالْقُرْآنِ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ إِلَى النَّاسِ. وَهَذِهِ الْآيَةُ كَقَوْلِهِ تَعَالَى: ﴿فَالْمُلْقِيَاتِ ذِكْرًا عُذْرًا أَوْ نُذْرًا﴾ [الْمُرْسَلَاتِ:٥، ٦] .
* * *
وَقَوْلُهُ: ﴿إِنَّ إِلَهَكُمْ لَوَاحِدٌ﴾ هَذَا هُوَ الْمُقْسَمُ عَلَيْهِ، أَنَّهُ تَعَالَى لَا إِلَهَ إلا هو ﴿رَبُّ السَّمَوَاتِ وَالأرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا﴾ أَيْ: مِنَ الْمَخْلُوقَاتِ، ﴿وَرَبُّ الْمَشَارِقِ﴾ أَيْ: هُوَ الْمَالِكُ الْمُتَصَرِّفُ فِي الْخَلْقِ بِتَسْخِيرِهِ بِمَا فِيهِ مِنْ كَوَاكِبَ  ثَوَابِتَ، وَسَيَّارَاتٍ تَبْدُو مِنَ الْمَشْرِقِ، وَتَغْرُبُ مِنَ الْمَغْرِبِ. وَاكْتَفَى بِذِكْرِ الْمَشَارِقِ عَنِ الْمَغَارِبِ لِدَلَالَتِهَا عَلَيْهِ. وَقَدْ صَرَّحَ بِذَلِكَ فِي قَوْلِهِ: ﴿فَلا أُقْسِمُ بِرَبِّ الْمَشَارِقِ وَالْمَغَارِبِ إِنَّا لَقَادِرُونَ﴾ [الْمَعَارِجِ:٤٠] . وَقَالَ فِي الْآيَةِ الْأُخْرَى: ﴿رَبُّ الْمَشْرِقَيْنِ وَرَبُّ الْمَغْرِبَيْنِ﴾ [الرَّحْمَنِ:١٧] يَعْنِي فِي الشِّتَاءِ وَالصَّيْفِ، لِلشَّمْسِ وَالْقَمَرِ.

-Surat Ash-Shaffat, Ayat 2

surat assoffat ayat 1

وَٱلصَّٰٓفَّٰتِ صَفّٗا

(Bahasa Indonesia)
Demi (rombongan malaikat) yang berbaris bersaf-saf,

(Arabic Ibn Kathir Tafseer)
تَفْسِيرُ سُورَةِ الصَّافَّاتِ
[وَهِيَ]  مَكِّيَّةٌ.
قَالَ النَّسَائِيُّ: أَخْبَرَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ مَسْعُودٍ، حَدَّثَنَا خَالِدُ -يَعْنِي ابْنَ الْحَارِثِ-عَنِ ابْنِ أَبِي ذِئْبٍ قَالَ: أخبرني بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَأْمُرُنَا  بِالتَّخْفِيفِ، وَيَؤُمُّنَا بِالصَّافَّاتِ. تَفَرَّدَ بِهِ النَّسَائِيُّ  .
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
* * *
قَالَ سُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ، عَنِ الْأَعْمَشِ، عَنْ أَبِي الضُّحَى، عَنْ مَسْرُوقٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ: ﴿وَالصَّافَّاتِ صَفًّا﴾ وَهِيَ: الْمَلَائِكَةُ، ﴿فَالزَّاجِرَاتِ زَجْرًا﴾ وَهِيَ: الْمَلَائِكَةُ، ﴿فَالتَّالِيَاتِ ذِكْرًا﴾ هِيَ: الْمَلَائِكَةُ.
وَكَذَا قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ، وَمَسْرُوقٌ، وَسَعِيدُ بْنُ جُبَيْر، وعِكْرِمة، وَمُجَاهِدٌ، والسُّدِّيّ، وَقَتَادَةُ، وَالرَّبِيعُ بْنُ أَنَسٍ.
قَالَ قَتَادَةُ: الْمَلَائِكَةُ صُفُوفٌ فِي السَّمَاءِ.
وَقَالَ  مُسْلِمٌ: حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَة، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ فُضَيْل، عَنْ أَبِي مَالِكٍ الْأَشْجَعِيِّ، عَنْ رِبْعِيّ، عَنْ حُذَيْفَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ "فُضِّلنا عَلَى النَّاسِ بِثَلَاثٍ: جُعلت صُفُوفُنَا كَصُفُوفِ الْمَلَائِكَةِ، وَجُعِلَتْ لَنَا الْأَرْضُ كُلُّهَا مَسْجِدًا  وجُعلت لَنَا تُربتها  طَهُورًا إِذَا لَمْ نَجِدِ الْمَاءَ"  .
وَقَدْ رَوَى مُسْلِمٌ أَيْضًا، وَأَبُو دَاوُدَ، وَالنَّسَائِيُّ، وَابْنُ مَاجَهْ مِنْ حَدِيثِ الْأَعْمَشِ، عَنِ المُسَيَّب بْنِ رَافِعٍ، عَنْ تَمِيمِ بْنِ طَرَفة، عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَة قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وسلم "ألا تَصُفّون كَمَا تَصُفُّ الْمَلَائِكَةُ عِنْدَ رَبِّهِمْ؟ " قُلْنَا: وَكَيْفَ تَصُفُّ الْمَلَائِكَةُ عِنْدَ رَبِّهِمْ؟ قَالَ ﷺ: "يُتِمون الصُّفُوفَ الْمُتَقَدِّمَةَ ويَتَراصون فِي الصَّفِّ"  .
وَقَالَ السُّدِّيُّ وَغَيْرُهُ: مَعْنَى قَوْلِهِ ﴿فَالزَّاجِرَاتِ زَجْرًا﴾ أَنَّهَا تَزْجُرُ السَّحَابَ.
وَقَالَ الرَّبِيعُ بْنُ أَنَسٍ: ﴿فَالزَّاجِرَاتِ زَجْرًا﴾ : مَا زَجَرَ اللَّهُ عَنْهُ فِي الْقُرْآنِ. وَكَذَا رَوَى مَالِكٌ، عَنْ زيد بن أسلم.
﴿فَالتَّالِيَاتِ ذِكْرًا﴾ قَالَ السُّدِّيُّ: الْمَلَائِكَةُ يَجِيئُونَ بِالْكِتَابِ، وَالْقُرْآنِ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ إِلَى النَّاسِ. وَهَذِهِ الْآيَةُ كَقَوْلِهِ تَعَالَى: ﴿فَالْمُلْقِيَاتِ ذِكْرًا عُذْرًا أَوْ نُذْرًا﴾ [الْمُرْسَلَاتِ:٥، ٦] .
* * *
وَقَوْلُهُ: ﴿إِنَّ إِلَهَكُمْ لَوَاحِدٌ﴾ هَذَا هُوَ الْمُقْسَمُ عَلَيْهِ، أَنَّهُ تَعَالَى لَا إِلَهَ إلا هو ﴿رَبُّ السَّمَوَاتِ وَالأرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا﴾ أَيْ: مِنَ الْمَخْلُوقَاتِ، ﴿وَرَبُّ الْمَشَارِقِ﴾ أَيْ: هُوَ الْمَالِكُ الْمُتَصَرِّفُ فِي الْخَلْقِ بِتَسْخِيرِهِ بِمَا فِيهِ مِنْ كَوَاكِبَ  ثَوَابِتَ، وَسَيَّارَاتٍ تَبْدُو مِنَ الْمَشْرِقِ، وَتَغْرُبُ مِنَ الْمَغْرِبِ. وَاكْتَفَى بِذِكْرِ الْمَشَارِقِ عَنِ الْمَغَارِبِ لِدَلَالَتِهَا عَلَيْهِ. وَقَدْ صَرَّحَ بِذَلِكَ فِي قَوْلِهِ: ﴿فَلا أُقْسِمُ بِرَبِّ الْمَشَارِقِ وَالْمَغَارِبِ إِنَّا لَقَادِرُونَ﴾ [الْمَعَارِجِ:٤٠] . وَقَالَ فِي الْآيَةِ الْأُخْرَى: ﴿رَبُّ الْمَشْرِقَيْنِ وَرَبُّ الْمَغْرِبَيْنِ﴾ [الرَّحْمَنِ:١٧] يَعْنِي فِي الشِّتَاءِ وَالصَّيْفِ، لِلشَّمْسِ وَالْقَمَرِ.

-Surat Ash-Shaffat, Ayat 1

Selasa, 14 Januari 2020

Jhq Kecamatan Kutorejo

_*Sekedar untuk diketahui hasil rapat JHQ putra kutorejo, 12 januari 2020:*_

1. Bahwa semua anggota JHQ putra berkomitmen untuk mengikuti kegiatan rutinan 3 minggu sekali dirumah semua anggota JHQ putra setiap hari sabtu ba'da isya..

2. Start kegiatan mudarosah jam 21.00/ jam 9 harus dimulai...

3. Setiap anggota membayar iuran Rp 5000...

4. Bila tdk hadir dikenakan infak Rp 10000 dan tetap membayar Rp 5000 sebagai ganti ketidak hadiran waktu Rutinan... 

5. Kegiatan mudarosah membaca 1 juz Al qur'an dan dipersilahkan setoran khusus kepada gus Arif bagi yang ingin menambah / melancarkan AL qur'an ...

6. Kegiatan rutinan sudah ditentukan 3 minggu yg akan datang tgl 1 februari  dimulai dari rumah Ustadz syakirin no 2 3 4 dst nanti ada data list dari bendara ustadz syofiun..

7. Masalah konsumsi sekadarnya saja..

*Semoga anggota JHQ putra kec KUTOREJO selalu mendapat hidayah & ridlo dari Alloh swt Amiiin...*

Hadits kelas 6

Hadits kelas 6 ۱. خَيْرُ بَيْتٍ فِى الْمُسْلِمِيْنَ بَيْتٌ فِيْهِ يَتِيْمٌ يُحْسَنُ اِلَيْهِ  Sebaik-baik rumah orang islam adalah rumah yan...